Risa Santoso resmi ditunjuk menjadi Rektor Institut Teknologi Bisnis (ITB) Asia di usia 27 tahun. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Risa Santoso resmi ditunjuk menjadi Rektor Institut Teknologi Bisnis (ITB) Asia di usia 27 tahun. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Sempat Diremehkan, Risa Jadi Rektor di Usia 27 Tahun

Pendidikan Pendidikan Tinggi Pengangkatan Rektor
Daviq Umar Al Faruq • 06 November 2019 17:46
Malang:Risa Santoso resmi ditunjuk menjadi Rektor Institut Teknologi Bisnis (ITB) Asia, Kota Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Jabatan itu diraih Risa di usianya yang masih belia, menginjak 27 tahun.
 
Sebelumnya, Risa menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di Kampus yang sama. Berkat kepiawaiannya, wanita kelahiran 27 Oktober 1992 ini dipilih oleh Yayasan Wahana Edukasi Cendikia menjadi rektor.
 
Saat ditemuiMedcom.id,Risa mengaku kini memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Sebab, sebelumnya dia hanya terlibat dan berkecimpung dalam pengembangan bisnis di kampus tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sekarang saya terlibat di semua pengembangan kampus. Sebelumnya hanya beberapa program. Sekarang mulai fasilitas kampus, kurikulum, ekspansi dan lain-lain, semuanya terlibat. Ini hal yang perlu saya pelajari lagi," katanya.
 
Berbagai gebrakan pernah dilakukan Risa saat menjabat Direktur Pengembangan Bisnis. Mulai menjadi inisiator Asia Entrepreneurship Training Program (AETP) hingga program akselerasi kerja sama Swiss dan Indonesia.
 
Program kerja sama Swiss-Indonesia ini untuk membantu pengembangan dan internasionalisasistartupmuda Indonesa hingga mendapatkan pendanaan internasional.
 
Berkat program ini Kampus Asia dipilih menjadi pusat pelatihan di Indonesia yang bertanggung jawab untuk pelatihanstartupdi bagian Indonesia Timur.
 
Tak hanya itu, Risa juga menjadi inisiator Asia Hackaton dan program magang di luar negeri. Lewat program ini, mahasiswa Kampus Asia bisa magang di perusahaan luar negeri selama satu bulan, agar mandiri dan memiliki pandangan luas.
 
"Ke depannya, Institut Asia ini akan membangun ilmu yang fokus pada digital bisnis. Program yang lebih spesifik. Tidak hanya belajar ilmu saja, tetapi juga ada pengalaman yang didapatkan," terangnya.
 
Risa sendiri juga ingin lebih banyak berkoordinasi dengan para dosen dan mahasiswanya di Kampus Asia. Tujuannya tak lain untuk mengetahui kebutuhan baik dari dosen maupun mahasiswa.
 
"Untuk mahasiswa saya ingin menyadarkan apa yang mereka inginkan. Kalau mereka jelas mau jadi apa, dan kita tahu lalu bisasupport,"ujarnya.


Optimistis maju


Meski terhitung masih muda, Risa mengaku tetap optimistis membawa Kampus Asia menjadi lebih maju. Walau banyak pihak yang meremehkannya, Risa mengaku bakal tetap fokus bekerja hingga meraih hasil yang maksimal.
 
"Pasti ada yangngomongjelek, ataungomongbagus. Tapi itu tidak terlalu saya dengarkan. Saya fokus kerja, tidak terlakumikirinorang. Semoga ini bisa menjadi momentum bagi institusi sendiri. Saya akan bekerja lebih dari yang di-planning-kan," tegasnya.
 
Risa Sendiri merupakan lulusan kampus luar negeri. Dia mengenyam pendidikan S1 di University of California, Berkeley. Di sini dia mengambil jurusan major Ekonomi dan minor bidang Pendidikan.
 
Selanjutnya Risa melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, menggunakan beasiswa Layanan Beasiswa dan Pendanaan Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Harvard Graduate Schoolnof Education. Di sini Risa mengambil jurusan Pendidikan.
 
"Saya memang mau menggeluti dunia pendidikan. Mau mengerjakan yang terbaik dan bisa memberikan yang terbaik di dunia pendidikan," katanya.
 
Risa mengaku ingin menerapkan beberapa kebijakan kampus luar negeri di Kampus Asia. Salah satunya terkait tugas akhir atau skripsi.
 
Sebab, diakuinya kampus luar negeri tidak mewajibkan skripsi. "Skripsi di luar negeri adalah pilihan. Jadi tidak menjadi momok seperti di Indonesia. Ini yang ingin saya coba terapkan di sini," ungkapnya.
 
Mekanismenya, mahasiswa Asia nantinya bisa memilih. Bagi yang ingin fokus di bidang riset, bisa mengerjakan skripsi. Sedangkan bagi yang ingin fokus di dunia kerja bisa mengerjakan program industri.
 
"Mahasiswa bisa membuat program industri yang lebih cocok bagi pekerjaan yang mereka inginkan. Contohnya program yang bisa memajukan perusahaan, seperti riset tapi bener-bener diaplikasikan," jelasnya.
 
Gagasan ini memang bukan pertama kalinya di Indonesia. Risa sendiri mengaku beberapa kali mendengar kampus di Indonesia memiliki kebijakan serupa dengan impiannya tersebut.
 
"Intinya meringankan mahasiswa. Jadi bagaimana caranya biar tugas akhir berguna buat mahasiswa," tegasnya.
 
Di sisi lain, sebelumnya Risa pernah bekerja sebagai tenaga Ahli Muda di Kantor Staff Presiden pada 2015-2017 silam. Saat itu, Risa berada di bawah Deputi III yang membawahi bidang Manajemen Isu-Isu Ekonomi Strategis.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif