Universitas Trisakti  dan Yayasan Trisakti sepakat akhiri konflik 17 tahun lewat penandtangan MoU.  Foto: Medcom.id/ Muhammad Syahrul Ramadhan
Universitas Trisakti dan Yayasan Trisakti sepakat akhiri konflik 17 tahun lewat penandtangan MoU. Foto: Medcom.id/ Muhammad Syahrul Ramadhan

Universitas dan Yayasan Trisakti Sepakat Akhiri Konflik 17 Tahun

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 20 Desember 2019 15:17
Jakarta: Universitas dan Yayasan Trisakti sepakat mengakhiri konflik yang sudah berlangsung selama 17 tahun. Kesepakatan ini tercapai usai kedua belah pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Kesepakatan Bersama Penyelesaian Kelembagaan Universitas Trisakti.
 
"Yang penting sekarang deklarasi ke semuanya, bahwa kami konflik telah usai," kata Wakil Rektor I Universitas Trisakti, Asri Nugrahanti usai penandatangan MoU, di Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Jumat, 20 Desember 2019.
 
Asri mengatakan, dengan adanya rekonsiliasi ini masalah di masa lalu dapat dituntaskan dengan segera. Selain itu juga, soal status kelembagaan bisa berjalan beriringan antara Usakti dan Yayasan Trisakti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Status kelembagaan Trisakti apakah PTN-BH atau PTS untuk permohonan ke Kemendikbud bisa bersama-sama, kalau dulu kan Usakti memutuskan ini takut digugat yayasan, kalau memutuskan begini Usakti yang menggugat. Dengan adanya rekonsiliasi semoga semua berjalan dengan baik," ujarnya.
 
Sementara itu, Ketua Yayasan Trisakti, Bimo Prakoso menyambut baik rekonsiliasi ini. Ia berharap semua permasalahan selesai dengan musyawarah mufakat.
 
"Sangat bersyukur 17 tahun akhirnya rekonsiliasi, tanpa itu kita enggak bisa maju. Jadi kita ayolah kita bersatu, kekurangan kita selesaikan dengan benar. Musyawarah mufakat," ujarnya.
 
Konflik Usakti dengan Yayasan Trisakti sudah berlangsung sejak 2002, Konflik dipicu ketika Rektor Usakti, Thoby Mutis menyatakan diri sebagai calon tunggal rektor pada 2002. Padahal, sesuai statuta universitas, calon rektor minimal ada tiga orang.
 
Alhasil sengketa pengelolaan pun muncul dan terus bergulir. Sebagai upaya penyelesaian, sengketa ini dibawa ke meja hijau.
 
Hingga akhirnya, Mahkamah Agung (MA) memenangkan yayasan dan memerintahkan pengadilan negeri (PN) Jakarta Barat untuk mengeksekusi rektor bersama sembilan pejabat rektorat lainnya.
 
Menurut Yayasan pada 4 September 2002, Rektor Universitas, Trisakti Thoby Mutis beserta sembilan dosen dan pegawainya telah mengambil pengelolaan Universitas Trisakti secara paksa.
 
Kemudian pada 2004 MA mengeluarkan amar putusan bahwa Yayasan Trisakti telah dipulihkan haknya sebagai satu-satunya Badan Penyelenggara dari Universitas Trisakti yang sah. Putusan Mahkamah Agung (MA) tersebut bernomor 410K/PDT/2004 yang diperkuat dengan putusan Peninjauan Kembali (PK) MA Nomor 575PK/PDT/2011.
 
Dengan bekal surat keputusan yang sudah berketetapan hukum (inkracht) tersebut, pengurus Yayasan Trisakti pun bermaksud hendak mengeksekusi orang-orang yang dianggap terlibat dalam penguasaan kampus.Yayasan Trisakti mendatangi tercatat dari 2011 hingga 2016 telah empat kali mendatangi Universitas Trisakti untuk menjalankan proses eksekusi yaitu pada 19 Mei 2011, 28 Mei 2012, 6 November 2013, dan terakhir 24 Agustus 2016.
 
Namun semua upaya eksekusi hasilnya nihil. Hingga saat ini, posisi rektor pun masih dijabat oleh Pelaksana tugas (Plt) dari Kemenristekdikti.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif