Penandatanganan kesepakatan damai antara Universitas Trisakti dan YayasanTrisakti.  Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Penandatanganan kesepakatan damai antara Universitas Trisakti dan YayasanTrisakti. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Kemenkumham Minta Hentikan Saling Curiga Usai 'Trisakti Berdamai'

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 20 Desember 2019 15:27
Jakarta:Dirjen Hak Asasi Manusia, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Mualimin Abdi meminta Universitas dan Yayasan Trisakti untuk sama-sama memiliki itikad baik sebagai satu keluarga. Terutama setelah kedua belah pihak telah sepakat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 17 tahun.
 
Kesepakatan damai tersebut ditandai dengan penandatangananMemorandum of Understanding (MoU) Kesepakatan Bersama Penyelesaian Kelembagaan Universitas Trisakti."Jangan ada lagi kecurigaan, itu perlu dihilangkan," tegas Mualimin di sela-sela penandatanganan MoU, di Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019.
 
Kemudian ke depan, kata Mualimin, keduanya harus duduk bersama untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu diselaraskan. "Karena itu tak mudah. "Jika Universitas Trisakti tidak segera memulai penyelarasan, maka (Trisakti) sebagai universitas akan hanya tinggal cerita," ujarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya,Universitas dan Yayasan Trisakti sepakat mengakhiri konflik panjang yang sudah berlangsung selama 17 tahun. Kesepakatan ini tercapai usai kedua belah pihak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Kesepakatan Bersama Penyelesaian Kelembagaan Universitas Trisakti.
 
"Yang penting sekarang deklarasi ke semuanya, bahwa konflik kami telah usai," kata Wakil Rektor I Universitas Trisakti, Asri Nugrahanti.
 
Konflik Usakti dengan Yayasan Trisakti sudah berlangsung sejak 2002, Konflik dipicu ketika Rektor Usakti, Thoby Mutis menyatakan diri sebagai calon tunggal rektor pada 2002. Padahal, sesuai statuta universitas, calon rektor minimal ada tiga orang.
 
Alhasil sengketa pengelolaan pun muncul dan terus bergulir. Sebagai upaya penyelesaian, sengketa ini dibawa ke meja hijau.
 
Hingga akhirnya, Mahkamah Agung (MA) memenangkan yayasan dan memerintahkan pengadilan negeri (PN) Jakarta Barat untuk mengeksekusi rektor bersama sembilan pejabat rektorat lainnya.
 
Menurut Yayasan pada 4 September 2002, Rektor Universitas, Trisakti Thoby Mutis beserta sembilan dosen dan pegawainya telah mengambil pengelolaan Universitas Trisakti secara paksa.
 
Kemudian pada 2004 MA mengeluarkan amar putusan bahwa Yayasan Trisakti telah dipulihkan haknya sebagai satu-satunya Badan Penyelenggara dari Universitas Trisakti yang sah. Putusan Mahkamah Agung (MA) tersebut bernomor 410K/PDT/2004 yang diperkuat dengan putusan Peninjauan Kembali (PK) MA Nomor 575PK/PDT/2011.
 
Dengan bekal surat keputusan yang sudah berketetapan hukum (inkracht) tersebut, pengurus Yayasan Trisakti pun bermaksud hendak mengeksekusi orang-orang yang dianggap terlibat dalam penguasaan kampus.Yayasan Trisakti mendatangi tercatat dari 2011 hingga 2016 telah empat kali mendatangi Universitas Trisakti untuk menjalankan proses eksekusi yaitu pada 19 Mei 2011, 28 Mei 2012, 6 November 2013 dan terakhir 24 Agustus 2016.
 
Namun semua upaya eksekusi hasilnya nihil. Hingga saat ini, posisi rektor pun masih dijabat oleh plt. dari Kemenristekdikti.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif