Anggaran Riset Tidak Naik di 2019
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe, Medcom.id/Husen Miftahudin.
Pekanbaru:  Pemerintan tidak akan meningkatkan anggaran riset di 2019. Di akhir masa Kabinet Kerja tahun depan, Pemerintah bakal fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Tahun depan (anggaran riset) tidak naik, karena tahun depan kanakhir dari kabinet sekarang. Tetapi Presiden mengatakan bahwa tahun yang akan datang itu fokus pada pengembangan SDM," ujar Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jumain Appe usai menghadiri peringatan puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Kompleks Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Sukajadi, Pekanbaru, Jumat, 10 Agustus 2018.


Pada 2018, jelas Jumain, pengembangan riset mendapat suntikan dana sebanyak Rp24,9 triliun dari total angaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebanyak Rp2.221 triliun. Sayangnya riset dan inovasi di Tanah Air mandek lantaran hanya Rp10,9 triliun atau 43,7 persen yang murni digunakan untuk pengembangan riset.

Total Rp24,9 triliun merupakan angaran riset yang tersebar untuk berbagai kementerian dan lembaga. "Kemenristekdikti sendiri kalau kita lihat, ada Rp1,8 triliun untuk riset dan pengembangan, ada sekitar Rp300 miliar di inovasi, dan kemudian di berbagai perguruan tinggi juga mengeluarkan anggaran (riset)," bebernya.

Baca: Rp14 Triliun Anggaran Riset Tak Hasilkan Output Maksimal

Adapun anggaran peningkatan kualitas SDM yang tersebar di berbagai kementerian pada 2019 direncanakan sebesar Rp14 triliun. Jumlah tersebut meningkat bila dibandingkan tahun ini yang hanya menerima suntikan dana di bawah Rp10 triliun.

"Nanti mungkin insyaallah tahun 2020 mulai kabinet yang akan datang itu riset akan kita dorong. Ini kita lagi menyusun programnya," ungkap Jumain.

Setali tiga uang, Menristekdikti Mohamad Nasir mengaku pemanfaatan iptek dan inovasi belum berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Anggaran riset sebanyak Rp24,9 triliun disebut belum terserap secara maksimal.

"Lebih dari setengahnya yakni Rp14 triliun belum menghasilkan output riset yang maksimal. Itulah sebabnya Bapak Presiden menekankan bahwa anggaran risetnya tidak boleh lagi diecer," tegasnya.

Pengembangan riset dianggap tak mampu mendongkrak perekonomian masyarakat. Maka itu, pemerintah terus mendorong sinergi antarinstitusi dan pelaku industri agar iptek dan inovasi memberikan kontribusi maksimal bagi masyarakat.

"Yang juga harus dibenahi adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sebagai faktor kunci keberhasilan pendidikan, penelitian, serta pengembangan iptek dan inovasi," tutup Nasir.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id