Kepala Laboratoroium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian Peternakan (FPP), Damat, Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq.
Kepala Laboratoroium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian Peternakan (FPP), Damat, Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq.

UMM Kembangkan Produk Mie dari Umbi-umbian

Daviq Umar Al Faruq • 27 Juli 2018 16:44
Malang: Laboratoroium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah mengembangkan berbagai produk inovatif berbasis umbi-umbian. Salah satu produk yang saat ini dikembangkan yakni mie dan makaroni dari campuran tepung singkong dan pati garut.  
 
Kepala Laboratorium ITP UMM, Damat mengatakan, mie dan makaroni merupakan jenis makanan yang banyak diminati masyarakat Indonesia dan trennya terus meningkat.
 
"Tapi yang perlu diketahui, bahwa mayoritas mie yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia adalah dari tepung terigu yang berasal dari gandum. Sayangnya sampai hari ini seratus persen masih impor,” kata Damat, Jumat 27 Juli 2018.

Menurut dosen Ilmu dan Teknologi Pangan UB ini, pada 2018 saja, impor gandum masyarakat Indonesia diproyeksi sudah mencapai lebih dari 10 juta ton. Diakuinya, Indonesia menjadi importir gandum terbesar kedua setelah Mesir.
 
Bahkan berdasarkan data yang dirilis Departemen Pertanian Amerika Serikat, lima tahun lagi Indonesia diproyeksi akan menjadi importir gandum terbesar di dunia.
 
Baca: UI Terapkan Sistem Pencatatan Posyandu Berbasis IT
 
Sehingga, perlu ada upaya serius untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat.  terutama untuk mengembangkan produk pangan berbasis sumber pangan lokal. Upaya tersebut juga harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah.
 
Selain itu, pemanfaatan umbi-umbian untuk mensubstitusi tepung terigu diketahui memiliki nilai potensi ekonomi yang sangat besar.
 
“Berdasarkan data statistik, tren konsumsi tepung terigu gandum dari tahun ke tahun terus meningkat. Katakanlah kalau kita berhasil mengembangkan produk umbi-umbian ini, tidak mesti lima puluh persen, cukup sepuluh persen kita kuasai pasar, nilainya sudah sangat luar biasa besar,” ungkapnya.
 
Damat menambahkan beberapa jenis ubi-ubian seperti ubi jalar, singkong dan umbi garut diketahui memiliki kandungan serat lebih tinggi ketimbang gandum. Selain itu, pada ubi jalar misalnya, diketahui kaya antioksidan, yakni salah suatu senyawa yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh.
 
Sedangkan tepung terigu, mengandung protein khas yang disebut gluten. Protein inilah yang membuat produk roti dapat mengembang baik. Namun bagi sebagian orang, keberadaan gluten ini justru dapat menimbukan efek negatif. Terutama bagi penyandang autisme, mengonsumsi gluten secara berlebihan membuat pengkonsumsinya menjadi hiper aktif.
 
“Selain itu, bagi mereka yang intoleran terhadap gluten, keberadan gluten juga dapat memicu kerusakan jaringan mikrofili pada usus halus yang dikenal dengan penyakit celiac deases. Jika mikrofili rusak, maka absorpsi atau penyerapan makronutrien (zat gizi yang dibutuhkan tubuh) akan terganggu, sehingga dapat berakibat malnutrisi,” terangnya.
 
Ke depan, Lab ITP UMM berencana menindaklanjuti produk ini untuk dikembangkan menjadi produk komersial. Salah satu upaya yang dilakukan dengan segera membentuk unit khusus di UMM yang menampung segala inovasi dari sejumlah laboratorium yang ada agar bernilai ekonomis.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan