Kunjungan tersebut diikuti mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Multimedia dan Teknik Informatika dari Jurusan Komputer dan Bisnis PNC. Selain melihat studio dan control room, mahasiswa juga berdialog dengan para pekerja media mengenai alur produksi, pembagian tugas, hingga peluang magang.
Dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Multimedia PNC, Santi Purwaningrum, mengatakan Metro TV dipilih sebagai tujuan media visit karena memiliki fokus yang sejalan dengan materi broadcasting yang diajarkan di kampus. Relevansi ini dirasa perlu untuk menambah pengetahuan para mahasiswa.
| Baca juga: Bukan Cuma Teknik Perminyakan, Ini 16 Jurusan Kuliah Paling Dibutuhkan di Industri Migas |
"Di prodi kami ada mata kuliah broadcasting. Karena Metro juga fokus di bidang broadcasting, kami merasa kunjungan ini sangat relevan. Ternyata setelah datang, banyak sekali ilmu yang didapat, terutama mengenai praktik di dunia industri yang cakupannya jauh lebih luas dibandingkan yang dipelajari di kampus," kata Santi saat ditemui di kantor Media Group Network, Jakarta, Rabu 15 Juli 2026.
Menurut dia, media visit bukan sekadar kegiatan observasi, tetapi menjadi bagian dari upaya menyelaraskan pembelajaran dengan kebutuhan industri. Mahasiswa dapat melihat bagaimana teori yang dipelajari di ruang kelas diterapkan dalam proses produksi siaran secara profesional.
Santi menuturkan kerja sama PNC dengan Metro TV juga telah berlangsung melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Masukan dari industri bahkan menjadi salah satu bahan penyempurnaan kurikulum agar lulusan lebih siap memasuki dunia kerja.
"Harapannya hubungan ini semakin kuat. Tidak hanya media visit, tetapi juga melalui program magang, penelitian, pelatihan, hingga peluang rekrutmen lulusan PNC," ujarnya.
Mahasiswa semester IV Teknologi Rekayasa Multimedia PNC, Muhammad Fikri, mengaku media visit memberikan gambaran nyata mengenai dunia kerja yang selama ini hanya dipelajari melalui teori. Dengan kunjungan ini, ia lebih memahami realisasi teori terhadap eksekusinya di industri.
"Selama kuliah banyak teori. Di sini kami melihat langsung bagaimana teori itu diterapkan di industri. Jadi kami mendapat gambaran yang jelas tentang dunia kerja broadcasting," katanya.
Sementara itu, mahasiswa lainnya Rafli Nur Afandi mengaku terkesan dengan sistem kerja di ruang kontrol produksi yang melibatkan banyak tenaga profesional dengan pembagian tugas yang spesifik. Menurutnya, produksi siaran di kampus masih dilakukan secara sederhana, bahkan satu orang kerap merangkap beberapa peran.
"Kami jadi tahu bagaimana pembagian tugas di control room, mulai dari operator, grafis, audio, visual effect, sampai kameramen. Itu memberikan pengalaman yang tidak kami dapatkan di kampus. Jadi kami tahu ada struktur kerja lebih kompleks dan mengutamakan koordinasi antartim.," ujar Rafli.
Media visit tersebut juga semakin memotivasi mahasiswa untuk meniti karier di industri media. Rafli dan Fikri mengaku memperoleh banyak informasi mengenai proses magang, keterampilan yang dibutuhkan, hingga peluang bekerja di Metro TV setelah lulus.
"Kami jadi tahu tahapan magang, tools yang digunakan, sampai proses menuju dunia kerja. Pengalamannya sangat berharga dan membuat kami semakin tertarik berkarier di industri broadcasting," tuturnya.
| Baca juga: Lulusan Peternakan Jadi Apa? Ini 15 Prospek Kerja, Gajinya Tembus Miliaran Rupiah! |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda