Sistem Pendidikan di Indonesia Dinilai Perlu Diperbarui
Aksi pembacaan puisi, bentang poster dan pemberian bunga kepada guru itu sebagai bentuk penolakan kekerasan di lingkungan pendidikan. (Foto: ANTARA/Didik Suhartono)
Jakarta: Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji menilai kualitas pendidikan di Indonesia semakin lama semakin menurun. Tingginya anggaran pendidikan dinilai tak diikuti dengan peningkatan kualitas. Imbasnya, pemanfaatan anggaran pendidikan tidak efektif dan efisien.

"Penyelenggara pendidikannya sendiri tidak jelas siapa penanggung jawabnya. Ini yang mungkin harus kita kaji lagi, tata lagi, supaya kita punya sumber daya manusia yang betul kompeten dan anggaran kita tidak sia-sia," ungkapnya, dalam Metro Siang, Sabtu 3 Februari 2018


Ia mencontohkan kasus kekerasan yang dilakukan oknum siswa terhadap seorang guru di Sampang, Madura, Jawa Timur, membuktikan bahwa kondisi pendidikan saat ini jauh berbeda dengan zaman dulu. 

Pelajar yang saat ini mayoritas didominasi oleh generasi Z perlu dididik dengan cara yang berbeda. Tak hanya sistem pendidikan, lingkungan bahkan kemampuan guru juga perlu ditingkatkan.

"Jangan memaksakan mendidik anak-anak kita dengan pola zaman dulu. Pola pendidikan sekarang sangat berbeda. Ini yang kerap membuat bentrok karena ada celah. Kasihan juga anak dididik tidak sesuai zamannya," kata Indra.

Tak cuma pola mendidik, Indra mengatakan hubungan atau komunikasi antarpihak terutama guru, sekolah, dan orang tua perlu dilakukan seintens mungkin. Jangan lagi ada hubungan seperti 'penjual dan pembeli.'

Artinya, orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan kepada sekolah. Namun ketika anak melakukan sesuatu di luar aturan dan dilakukan penindakan kedisiplinan, orang tua atau pun siswa justru tidak terima dan melakukan tindakan balasan. 

"Sistem pendidikan kita sudah tidak sesuai dengan zamannya, perlu diperbarui dari guru, sekolah, kurikulum, dan sebagainya. Jangan sampai ada salah terima kalau anak melakukan kesalahan harus terima konsekuensi orang tua jangan apatis menyerahkan seluruhnya kepada sekolah," jelasnya.





(MEL)