Dosen FISIP UNAIR, I Gede Wahyu Wicaksana. Foto: Dok. Unair
Dosen FISIP UNAIR, I Gede Wahyu Wicaksana. Foto: Dok. Unair

Rusia-Ukraina, Pakar Geostrategi UNAIR Beberkan Alasan Perang Tak Kunjung Usai

Citra Larasati • 28 Mei 2022 16:30
Jakarta:  Sudah lebih dari tiga bulan perang Rusia-Ukraina masih berlanjut dan belum menemukan titik terang.  Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Hubungan Internasional Universitas Airlangga (UNAIR) I Gede Wahyu Wicaksana pun menyampaikan pandangannya dari sisi geostrategis, 
 
Wahyu menilai hal ini disebabkan karena keinginan kuat Rusia untuk tetap mempertahankan wilayah tradisionalnya guna membuat adanya ekuilibrium kekuatan dan rezim survival.  “Rusia melakukan low intensity war. Ini artinya hanya menyerang di beberapa bagian untuk melumpuhkan beberapa sektor tertentu. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan rezim, menguasai negara, mengokupasi, atau menjajah,” jelas Wahyu.
 
Menurut Wahyu, low intensity war yang dilakukan Rusia kepada Ukraina ini ditujukan untuk mengembalikan supremasi Rusia di Eropa Timur, khususnya negara-negara pecahan Uni Soviet termasuk Ukraina karena wilayah tersebut merupakan wilayah tradisional Rusia.  Tentu hal ini ditujukan guna menjamin keamanan wilayah Rusia itu sendiri.

Ekuilibrium Kekuatan

Dilansir dari laman UNAIR, menurut Wahyu, tujuan Rusia  mengembalikan supremasi Rusia di Eropa Timur khususnya negara-negara pecahan Uni Soviet ini bukan untuk menghancurkan dominasi Amerika Serikat melainkan untuk menjaga adanya perimbangan kekuatan dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Rusia ingin eksis berdampingan. Amerika Serikat boleh tinggal di Amerika Barat, Amerika Latin, atau boleh di manapun. Akan tetapi Rusia juga punya wilayah, jadi punya kavlingnya masing-masing. Kalau kavlingan wilayah yang secara tradisional adalah milik Rusia kemudian diganggu, jelas Rusia akan bereaksi,” terangnya.
 
Selain itu, Wahyu juga menilai bahwa pecahnya perang Rusia-Ukraina hingga berlarut-larut disebabkan adanya sindrom negara super power. “Amerika Serikat sudah tambah satu, dia ingin satu setengah, sudah satu setengah dia ingin dua, dan seterusnya. Itulah mengapa berbagai negara termasuk Rusia ingin menggeser perimbangan kekuasaan dunia yang sebelumnya sangat sangat condong ke Amerika,” terang Wahyu.
 
Menurutnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama tujuh belas tahun memerintah menghadapi oposisi, di mana oposisi digerakkan oleh kekuatan Barat,” jelas Wahyu.
 
Baca juga:  Epidemiolog Unair Sebut Lepas Masker Sebaiknya Dijadikan Anjuran, Tetap Wajib dalam Kondisi Tertentu
 
Hal inilah juga yang membuat low intensity war dilakukan oleh Rusia kepada Ukraina untuk melindungi rezim yang ada atau yang secara konseptual dikenal dengan sebutan rezim survival. 
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif