Rektor ITS, Mochamad Ashari. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia
Rektor ITS, Mochamad Ashari. Foto: Medcom.id/Intan Yunelia

ITS 'Top Ten' Kinerja Penelitian Berkat 'Resep' dari Negeri Sakura

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 November 2019 13:31
Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) merilis hasil penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi untuk periode 2016-2018. Salah satu perguruan tinggi yang berhasil masuk kelompok Mandiri, bahkan duduk di sepuluh besar terbaik adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
 
Dalam penilaian, ada beberapa komponen yang dievaluasi, meliputi sumber daya penelitian sebanyak 30 persen, manajemen penelitian 15 persen, luaran (output) 50 persen dan revenue generating 5 persen.
 
Rektor ITS, Mochamad Ashari mengungkapkan, ITS tentu saja memiliki resep khusus untuk mencapai hal tersebut. Salah satunya berkat upaya membangun ekosistem riset yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ekosistem tersebut terbangun melalui pusat penelitian LBE (Laboratorium Based Education) . Ia menyebut konsep LBE ini diadopsi dari negeri sakura, Jepang.
 
"Jadi mahasiswa khususnya S2 itu dipercepat masuk ke dalam lab, perkuliahan berjalan sebisa mungkin sudah di laboratorium. Mulai Semester satu sudah mapping," ujar Ashari saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 21 November 2019.
 
Tak kalah penting, kata Ashari, peran mahasiswa pascasarjana cukup vital dalam mendongkrak kinerja penelitian di ITS. "Penelitian bisa hidup kalau ada mahasiswa pasca (pascasarjana). Sesungguhnya S1 juga bisa, tapi yang lebih fokus meneliti itu anak-anak pasca. Sehingga kita ITS banyak terbantu oleh mahasiswa pasca," terangnya.
 
Sementara untuk pendanaan, agar penelitian berjalan lancar, Ashari menyebut ada sumber lain selain dari anggaran yang digelontorkan pemerintah, yakni dari BUMN maupun perusahaan swasta.
 
Selain itu juga dari revenue generating atau dana yang dihasilkan dari produk penelitian. "Terus, kalau saya baca ada, revenue generating dari penelitian, ITS banyak, cuma mungkin kurang ekspos. Yakni bisa menghasilkan dana kembali karena riset sudah dihilirisasi atau bahkan diproduksi massal. Contohnya mobil listrik," imbuh pria kelahiran Sidoarjo ini.
 
Selain itu, mantan rektor UniversitasTelkom Bandung ini menuturkan, ITS juga punya Pusat Riset yang terbagi ke dalam delapan Pusat Riset."Di antaranya nanotech, renewable energy maritim, lebih detail sesuai kompetensi institusi masing-masing. Ada pusat riset yang mengomando, dosen-dosen siapa yang searah dengan riset ini berkumpul," jelas pria 54 tahun ini.
 
Sebelumnya,Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) meluncurkan hasil penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi untuk periode 2016-2018. Sepuluh besar perguruan tinggi dengan penelitian terbaik masih didominasi Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
 
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro mengatakan, terdapat tiga kategori kelompok penelitian yang masuk dalam penilaian klasterisasi kali ini. Dari hasil analisis terhadap data yang sudah diverifikasi, terdapat 47 perguruan tinggi yang masuk dalam kelompok mandiri, 146 perguruan tinggi kelompok utama, 479 perguruan tinggi kelompok madya, dan 1.305 perguruan tinggi masuk kelompok binaan.
 
10 besar perguruan tinggi dengan kinerja penelitian tertinggi:
 
1. Universitas Gadjah Mada (UGM)
2. Institut Pertanian Bogor (IPB)
3. Universitas Diponegoro (Undip)
4. Universitas Andalas (Unand)
5. Institut Teknologi Bandung (ITB)
6. Universitas Airlangga (Unair)
7. Universitas Padjadjaran (Unpad)
8. Universitas Hasanuddin (Unhas)
9. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
10.Universitas Udayana (Unud)
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif