Lighthouse School Program di SMAN 1 Kintamani saat ini telah memasuki akhir tahun kedua (Foto:Dok)
Lighthouse School Program di SMAN 1 Kintamani saat ini telah memasuki akhir tahun kedua (Foto:Dok)

SMAN 1 Kintamani, Memetik Cahaya dari Lighthouse School Program Tahun Kedua

Pendidikan Putera Sampoerna Foundation
M Studio • 30 September 2020 20:36
Bali: Pendidikan memiliki posisi sentral dalam mengembangkan potensi anak bangsa terutama pada masa yang akan datang. Sekolah adalah salah satu lembaga yang digadang-gadang mampu mendongkrak kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia.
 
Sekolah unggulan tentunya dambaan semua orang. Untuk menuju sekolah unggul dengan manajemen handal dibutuhkan strategi yang tepat serta partisipasi aktif antara semua pemangku kepentingan, seperti yang dilakukan oleh Putera Sampoerna Foundation - School of Development Outreach (PSF-SDO) melalui Lighthouse School Program (LSP).
 
Program Lighthouse School khusus dirancang untuk mempersiapkan sekolah yang memiliki tantangan atas performa untuk berevolusi menjadi sekolah panutan di Indonesia. Dalam upaya mencapai standar sekolah unggulan ini diadakan banyak workshop, pelatihan, pendampingan, serta hal-hal menarik lainnya yang berpotensi untuk meningkatkan daya saing dan prestasi sekolah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apa Itu Lighthouse School Program?
 
LSP merupakan program yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan pendidikan Indonesia baik dari sisi akademik maupun tata kelola, melalui pelaksanaan program yang intensif, komprehensif, dan kolaboratif. Lighthouse School Program memiliki visi untuk menjadikan sekolah binaannya sekolah panutan bagi sekolah-sekolah di sekitarnya.
 
SMAN 1 Kintamani yang terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, adalah salah satu sekolah binaan yang telah membuktikan bahwa mereka mampu melewati proses dan terpaan untuk menjadi sekolah unggul.
 
Lighthouse School Program menjadi sebuah inisiatif dan terobosan untuk memajukan pendidikan di Indonesia yang diselenggarakan oleh PSF- School Development Outreach (PSF-SDO) bersama dengan Grup Usaha Tegas Malaysia.
 
Lighthouse School Program di SMAN 1 Kintamani saat ini telah memasuki akhir tahun kedua. Seperti halnya pada tahun pertama, program ini telah banyak membawa perubahan bagi SMAN 1 Kintamani.
 
Keberhasilan SMAN 1 Kintamani terlihat dari pengelolaan sekolah yang semakin sistematis dan transparan. Selama berlangsungnya program, staf manajemen sekolah semakin terampil, para guru dan siswa pun semakin menikmati pembelajaran di kelas.
 
Sekilas SMAN 1 Kintamani, Bali
 
Sekolah yang terletak di Jalan Yudistira, Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini termasuk salah satu sekolah favorit di daerah Kintamani. Sekolah dengan akreditasi A tersebut memiliki luas 17.210 meter persegi dan telah menjadi rumah bagi lebih dari 900 siswa, 77 staf sekolah, termasuk para guru dan pegawai administrasi.
 
SMAN 1 Kintamani, Memetik Cahaya dari Lighthouse School Program Tahun Kedua
 
SMAN 1 Kintamani memiliki fasilitas ruang belajar yang bersih dan rapi dengan suasana menyenangkan. Halamannya luas dan dipenuhi tanaman yang menyejukkan.
 
Sekolah ini juga memiliki empat ruang laboratorium, serta sebuah perpustakaan untuk menunjang pembelajaran. Tak hanya itu, SMAN 1 Kintamani juga dilengkapi ruang UKS, ruang kesenian, panggung terbuka, serta toilet bagi siswa dan guru.
 
Dari sisi akademik, kecerdasan siswa di SMAN 1 Kintamani sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan psikotes yang dilakukan pada 2020. Rata-rata IQ yang dimiliki siswa dan siswi baru di sekolah ini berada di kisaran angka 108. Bakat dan minat siswa paling banyak pada kemampuan verbal dan numerik.
 
Tantangan Perubahan SMAN 1 Kintamani
 
Saat ini SMAN 1 Kintamani dikenal aktif dalam berbagai macam kegiatan dan berhasil menjuarai beberapa perlombaan berskala provinsi, bahkan berjibaku di lomba berskala nasional.
 
SMAN 1 Kintamani secara bertahap berproses untuk bisa meraih segudang prestasi dan menjadi sekolah unggul. Pada masa sebelumnya, laboratorium komputer di sekolah ini tidak terisi penuh sehingga menyebabkan hambatan dalam proses belajar.
 
Penggunaan teknologi juga belum diterapkan sepenuhnya dalam proses pembelajaran. Berbanding terbalik dengan kondisi sekarang. Akibat pandemi covid-19, seluruh proses belajar berubah menggunakan sistem daring (dalam jaringan) dan bertumpu pada teknologi.
 
Beberapa hal yang jadi catatan pada masa sebelumnya adalah manajemen sekolah yang masih harus dibenahi, peningkatan kebersihan sarana dan prasarana sekolah, serta kelengkapan buku di perpustakaan. Perpustakaan hanya digunakan oleh siswa untuk mengerjakan tugas, tidak ada program perpustakan sekolah yang dapat menawan hati siswa untuk berlama-lama di area membaca. Beberapa siswa bahkan sempat mengutarakan bahwa mereka tidak pernah membaca buku di perpustakaan karena tidak ada buku yang menarik bagi mereka untuk dibaca.
 
Itu dulu, sekarang tidak lagi. SMAN 1 Kintamani saat ini telah menjuarai Lomba Story Telling di Bangli, Bali. Bahkan turut berpartisipasi dalam lomba OSN (Olimpiade Sains Nasional) pada mata pelajaran Geografi. Prestasi lainnya yang sudah dicapai oleh siswa-siswi SMAN 1 Kintamani adalah partisipasi dalam lomba debat di taman Makam Pahlawan Bangli, serta lomba cerdas cermat di Bangli, dan beberapa lomba lainnya.
 
Proyek-proyek sekolah yang dijalankan oleh siswa dan siswi SMAN 1 Kintamani juga cukup inovatif, terutama bidang studi seni dan prakarya. Salah satu siswa mengusung tema “Reinkarnasi Sampah,” yakni inovasi menggunakan kembali limbah plastik dalam upaya mengurangi sampah.
 
Karya menarik lainnya adalah dari mata pelajaran Geografi, yaitu "Peta Tematik Digital Potensi Wisata Kawasan Geopark Batur Kintamani Bali.” Peta tematik ini mencoba memberikan solusi penyelesaian masalah ekonomi bagi para penggiat wisata di Kintamani, Bali.
 
Pemicu Perubahan SMAN 1 Kintamani
 
Apa yang memicu perubahan besar tersebut? Mungkin itu menjadi pertanyaan banyak orang. Jawabannya adalah program pendampingan dari Lighthouse School Program.
 
SMAN 1 Kintamani, Memetik Cahaya dari Lighthouse School Program Tahun Kedua
 
Program LSP di SMAN 1 Kintamani dimulai sejak November 2017. Metodologi yang digunakan pada program Lighthouse School berfokus pada pencapaian delapan Standar Pendidikan Nasional. Setiap standar juga lekat dengan indikator kunci tambahan dari sekolah yang nantinya akan dijadikan pemodelan.
 
Kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pertama, yaitu kick-off program dan studi pendahuluan yang mencakup profiling sekolah. Selanjutnya, ada koordinasi empat program, disusul workshop kepemimpinan, kemudian workshop bagi para guru. Tak hanya sampai sana, mereka juga dibimbing untuk bisa melakukan mentoring program dan melaksanakan evaluasi.
 
Hasilnya bisa kita lihat sekarang. Pada tahun pertama kemampuan pedagogik para guru semakin meningkat, demikian juga kemampuan manajemen dari staf sekolah. Terdapat peningkatan hingga 82 persen pada kapasitas guru terkait pembelajaran aktif di kelas. Bahkan, guru-guru sains akhirnya sering menggunakan laboratorium padahal sebelumnya mereka jarang menggunakan.
 
Sebanyak 53 persen guru juga telah bisa membuat rencana pembelajaran yang baik. Angka keberhasilan guru dalam membuat rencana belajar yang baik meningkat pada tahun kedua menjadi 78 persen. Sebuah pencapaian istimewa bagi program yang baru berjalan dua tahun.
 
Adapun pada tahun kedua, kegiatan yang dilaksanakan di SMAN 1 Kintamani terkait Lighthouse School Program juga berfokus pada peningkatan akuntabilitas dari sistem manajemen sekolah dan pemberdayaan komunitas sekolah melalui penyelenggaraan workshop maupun seminar. Para siswa pun secara bertahap disiapkan untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya melalui tes STEM (Sains, Teknologi, Teknik, Matematika) dan Bahasa Inggris secara daring. Capaian lainnya adalah peningkatan sikap positif siswa serta peningkatan kapasitas siswa dan siswi melalui berbagai program sekolah.
 
Pencapaian luar biasa terkait sikap positif siswa bisa dilihat dari menurunnya tingkat pelanggaran siswa terhadap peraturan di sekolah. Dari tahun 2018 hingga tahun 2020, telah terjadi penurunan sebesar 60 persen untuk pelanggaran berat siswa terhadap peraturan sekolah. Sedangkan pelanggaran ringan persentasenya turun sebesar 23 persen sepanjang dua tahun.
 
Para siswa menjadi lebih disiplin, lebih senang membaca, bahkan semakin aktif saat proses belajar mengajar di kelas. Perubahan positif siswa dan siswi ini persentasenya naik kurang lebih 14 persen pada tahun pertama berdasarkan indikator kunci tambahan.
 
Pihak sekolah pada tahun kedua juga telah sukses membuat SOP (Standard Operational Procedure) bagi berbagai fasilitas yang dimiliki, termasuk SOP dalam penggunaan laboratorium sains. SMAN 1 Kintamani juga berhasil mengadakan program konseling sebagai bentuk dukungan terhadap siswa. Para siswa mengaku bahwa program konseling ini sangat membantu mereka dalam proses belajar di sekolah.
 
Menjaga Komitmen Perubahan di Tengah Pandemi Covid-19
 
“Yang menjadi motor penggerak di SMAN 1 Kintamani menuju arah kebaikan itu adalah PSF-SDO dengan program LSP,” ucap Kepala Sekolah SMAN 1 Kintamani, I Ketut Ada.
 
SMAN 1 Kintamani telah berubah sangat pesat dan menjadi lebih baik. Perbaikan kebijakan manajemen sekolah, fasilitas dan infrastruktur pendidikan, serta kemampuan mengajar guru telah membuat siswa merasa semakin nyaman dalam menikmati proses pembelajaran.
 
Para guru juga melihat adanya perubahan pada budaya sekolah dan kebiasaan siswa saat di sekolah. Hasil yang sangat manis ini tak pelak dikarenakan inovasi guru lewat model pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PJBL) di dalam kelas. Bahkan pembelajaran berbasis proyek ini juga tetap dilaksanakan walaupun pandemi menerjang.
 
Ketika pandemi Covid-19 melanda, SMAN 1 Kintamani juga terkena imbasnya. Segala aktivitas manajerial administrasi sekolah dan proses pembelajaran berubah dari tatap muka menjadi daring. Situasi ini tentunya menciptakan tantangan tersendiri, terlebih kestabilan internet di daerah masih jadi permasalahan utama. Keterbatasan kuota guru dan siswa juga menjadi kendala lain, sehingga ada suatu urgensi untuk menggunakan media komunikasi dan alat pembelajaran digital.
 
Dalam suasana ketidakpastian akibat pandemi, SMAN 1 Kintamani memberikan terobosan luar biasa dalam memberikan layanan pendidikan terbaik bagi siswanya. Terbukti dengan inovasi yang dilakukan tim manajemen sekolah yang secara konkret mengidentifikasi dan memfasilitasi kebutuhan pembelajaran jarak jauh bagi guru dan siswa.
 
Pihak sekolah mengeluarkan kebijakan-kebijakan krusial pada masa darurat. Di bawah kepemimpinan I Ketut Ada sebagai kepala sekolah, semua guru tetap melaksanakan pembelajaran melalui Pembelajaran Berbasis Proyek yang dilakukan secara daring.
 
Tidak hanya itu, siswa juga dilibatkan dalam pelatihan vlog yang dapat menunjang proses pembelajaran jarak jauh. Melalui vlog, para siswa bisa melakukan presentasi serta memamerkan hasil karya terkait tugas-tugas sekolah mereka secara digital. Bahkan, dilaksanakan lomba vlog bagi para siswa selama pandemi berlangsung. Tentu saja ini memacu gairah para siswa untuk membuat vlog terbaik.
 
“Ada banyak perubahan di kelas kami. Para guru sekarang selalu menggunakan berbagai kegiatan yang menyenangkan saat mengajar. Saya merasa sangat nyaman belajar, dan tertantang untuk belajar lebih lagi," ucap Siswa kelas XI MIPA 1 Ni Putu Normalia.
 
Perasaan yang Harus Disampaikan
 
Orang tua adalah elemen penting dalam Lighthouse School Program. Kami percaya komunikasi yang efektif dengan orang tua siswa di masa krisis juga menjadi kunci penting dalam kesuksesan penyelenggaraan pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh untuk menguatkan komunikasi ini dengan mengadakan diskusi via webinar bagi orang tua yang dihadiri juga oleh siswa.
 
Acara bersama orang tua siswa ini disebut Sadu Wirasa. Istilah tersebut dikutip dari Bahasa Bali, yakni dari kata Sadu dan Wirasa. Sadu artinya menyampaikan. Kata Wirasa artinya perasaan atau pengalaman.
 
Sadu Wirasa dapat dimaknai sebagai kegiatan menyampaikan perasaan masing-masing, baik dari siswa, orang tua dan guru terkait dengan pencapaian kompetensi akademik serta non akademik selama proses pembelajaran berlangsung. Komunikasi tiga arah ini merupakan upaya meningkatkan pemahaman antara siswa, orang tua dan guru di SMAN 1 Kintamani.
 
“Yang saya apresiasi dari sekolahnya anak saya, SMAN 1 Kintamani, di sana mengepankan disiplin. Saya sebagai orangtua sangat-sangat setuju dengan hal itu. Apapun yang didasari dengan disiplin pasti hasilnya lebih baik”, ungkap Ni Wayan Sarini, salah seorang orang tua siswa dalam acara tersebut.
 
SMAN 1 Kintamani, Memetik Cahaya dari Lighthouse School Program Tahun Kedua
 
Kegiatan komunikasi bersama orang tua dan siswa ini telah menghasilkan kesepakatan bersama bahwa orang tua akan selalu mendukung program sekolah, memotivasi putra-putrinya, serta mendukung pelaksanaan proses pembelajaran. Para orang tua pun kini selalu mengetahui perkembangan belajar putra-putrinya.
 
Memetik Cahaya dan Inspirasi dari Lighthouse School Program
 
Aneka aktivitas dan inovasi yang telah disampaikan sebelumnya telah membuat Lighthouse School Program pada tahun kedua di SMAN 1 Kintamani terselesaikan dengan baik dan sukses. Kolaborasi apik antara PSF-SDO dan seluruh warga sekolah SMAN 1 Kintamani telah berbuah manis. Dukungan penuh yang diberikan oleh Usaha Tegas Sdn. Bhd dan Dinas Pendidikan Provinsi Bali juga sangat berarti dalam memuluskan kerja sama ini.
 
Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Bangli pun dengan sigap memfasilitasi saat diperlukan. Gusman Yahya selaku Direktur PSF-SDO menyampaikan bahwa, “Putera Sampoerna Foundation – School Development Outreach (PSF-SDO) selaku perancang dan pelaksana program memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pemerintah Provinsi Bali atas kinerja dan komitmennya dalam memajukan pendidikan di daerahnya dan selain itu Dalam kesempatan ini, apresiasi kami haturkan kepada Usaha Tegas Sdn. Bhd atas komitmennya dalam usaha peningkatan kualitas di SMAN 1 Kintamani dalam kerangka Lighthouse School Program. Sudah sejak lama, Usaha Tegas Sdn. Bhd dan Yayasan Putera Sampoerna berkolaborasi dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, dan khususnya di provinsi Bali”.
 
Lewat cerita sukses ini, PSF – SDO berharap dapat mendorong pemerintah daerah untuk terus melakukan inovasi. Harapan lainnya adalah program tersebut bisa menginspirasi banyak orang dan bisa diterapkan di daerah lain di Indonesia sehingga pendidikan semakin bermutu dan menjangkau segala lini.
 
Dukungan seluruh stakeholder pada akhirnya membuat SMAN 1 Kintamani memetik cahaya dari Lighthouse School Program. Semoga SMAN 1 Kintamani kedepannya dapat menjadi sekolah unggul yang menginspirasi bagi komunitas yang ada di sekitarnya dan sekolah-sekolah lain di Indonesia.
 
Informasi lebih lanjut kunjungi website https://www.psfoutreach.com/, Instagram @psfoutreach, dan Facebook PSF School Development Outreach.
 
(ROS)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif