Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.
Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.

Survei P2G: Mayoritas Sekolah Mulai Beralih ke Kurikulum Darurat

Pendidikan Virus Korona kurikulum 2013 Kurikulum Pendidikan Penyederhanaan kurikulum Pembelajaran jarak jauh
Ilham Pratama Putra • 03 Desember 2020 19:26
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong sekolah untuk tidak menggunakan kurikulum normal atau kurikulum 2013 selama pandemi covid-19. Sebab, kompetensi kurikulum 2013 sangat sulit tercapai ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diterapkan.
 
Perhimpunan untuk Pendidikan Guru (P2G) melakukan survei terkait penggunaan kurikulum 2013 tersebut. Hasilnya, saat ini tersisa 10 persen guru dan kepala sekolah yang masih menjalankan kurikulum normal tersebut dari 329 responden.
 
"Hanya 10,3 persen guru yang tetap menggunakan kurikulum nasional (2013) yang normal," ujar Kabid Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul dalam webinar evaluasi PJJ tahap dua dan kesiapan guru dalam PTM Januari 2021, Kamis 3 Desember 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari hasil survei itu ditemukan pula bahwa penggunaan kurikulum darurat yang berpusat pada pelajaran esensial mencapai angka 49,7 persen. Artinya separuh guru dan kepala sekolah yang menjadi responden telah menjalankan kebijakan dari Kemendikbud terkait kurikulum darurat.
 
"Dan sisanya sebanyak 40 persen guru itu menggunakan atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri yang disesuaikan oleh sekolah," sambung dia.
 
Baca juga:  Swab Test Sebelum PTM, Komisi X: Jangan Pakai Dana BOS
 
Adapun survei ini merupakan hasil evaluasi PJJ tahap kedua atau semester ganjil 2020 hingga persiapan guru menghadapi Pembelajaran Tatap Muka pada Januari 2021.  Sebanyak 329 guru maupun kepala sekolah menjadi responden dalam survei P2G ini.
 
Survei dilakukan selama empat hari, yakni mulai 24-27 November 2020. Survei dilakukan di 100 kabupaten dan kota pada 29 provinsi seluruh Indonesia.
 
Sebanyak 48,8 persen guru dan kepala sekolah berasal dari jenjang SMA, 30,6 persen di antaranya berasal dari jenjang SMP/MTs, dan SD, Madrasah dan PAUD 43,6 persen. Guru dan kepala sekolah ini mengajar pada zona merah sebesar 35,3 persen, 27,5 persen zona kuning, lalu zona oranye 17,8 persen, dan zona hijau 15,9 persen.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif