Delapan siswa siswi SMP dan SMA Cendekia Harapan membawa semangat “berbagi” di acara Indonesia Science Day 2019, (dokumentasi Cendekia Harapan).
Delapan siswa siswi SMP dan SMA Cendekia Harapan membawa semangat “berbagi” di acara Indonesia Science Day 2019, (dokumentasi Cendekia Harapan).

Memilih Jadi Solusi, Sejumlah Pelajar Lakukan Penelitian

Pendidikan Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 30 April 2019 20:09
Jakarta:Delapan siswa siswi SMP dan SMA Cendekia Harapan membawa semangat “berbagi” di acara Indonesia Science Day 2019, yang diselenggarakan dalam rangkaian HUT PP-IPTEK di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Para siswa tersebut memamerkan hasil karya penelitiannya yang berangkat dari persoalan di lingkungan sekitarnya.
 
Kedelapan siswa Cendekia Harapan ini memilih memanfaatkan waktunya untuk melakukan penelitian, di tengah virus games dan media sosial yang tengah melanda generasi seusianya. Siswa siswi Cendekia Harapan yang berusia 13-16 tahun ini melakukan sejumlah penelitian yang berangkat dari kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
 
Kepala sekolah Cendekia Harapan,Lidia Sandra mengatakan, pihak sekolah mengajak anak-anak untuk menyadari masalah yang ada di sekelilingnya dan berbagi apapun yang dimiliki untuk mengatasi permasalahan tersebut. "Walaupun emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunya kuberikan padamu. Itu prinsip kami," kata Lidia dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa, 30 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pernyataan Lidia ini tergambar jelas dalam produk-produk penelitian siswa-siswinya yang dilatarbelakangi atas keprihatinan dan semangat untuk berbagi solusi dalam mengatasi masalah yang ada di sekitarnya. Salah satunya adalahproduk Tirta Amerta, Melali, Zero Waste, dan space saving design product.
 
Baca:Ingin Menjadi Manfaat Bagi Sekitar Melalui Beton
 
"Produk-produk inovatif yang ditampilkan mengusung ide besar memperbaiki bangsa dan aksi nyata berbagi di produk-produk tersebut membuat stan ini terlihat luar biasa," ujar Lidia.
 
Lidiamengatakan produk Tirta Amerta dibuat karena keprihatinan terhadap kondisi sungai-sungai di Indonesia yang kian hari semakin memudar kejernihannya. "Terlihat dari sorot mata siswa tersebut betapa besar harapan generasi muda ini akan air bersih dan sehat sehingga mereka membuat produk tersebut," ungkap Lidia.
 
Produk Tirta Amerta bahkan diusulkan untuk dijadikan sebagai proyek nasional dalam rangka peningkatan kualitas mutu air dengan menggunakan parameter derajat keasaman (pH), kekeruhan, dan kesadahan air. Mengingat kota-kota besar seperti Jakarta memiliki kondisi sungai yang sangat memprihatinkan.
 
"Bahkan sungai-sungai di desa-desa terpencil pun tak luput dari limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai," terang Lidia.
 
Selain berkutat pada masalah air bersih, para siswa ini juga menunjukkan keprihatinannya terhadap manajemen limbah pertanian. Negara Indonesia yang mampu menghasilkan limbah pertanian seberat 56,54 ton per tahunnya, menyisakan permasalahan pada pengelolaan limbah jerami.
 
"Walaupun jerami telah dimanfaatkan menjadi pakan ternak ataupun biogas, kenyataannya 80% petani masih melakukan pembakaran jerami," jelasnya.
 
Pembakaran jerami menjadi jalan pintas petani dalam mengejar siklus penanaman padi. Dampak dari pembakaran jerami bukannya tak dirasakan oleh para petani, hanya saja mereka tidak menghiraukannya demi mengejar target produksi padi agar memenuhi kebutuhan makanan pokok masyarakat.
 
Polusi udara, gangguan saluran pernapasan dan bahkan kecelakaan yang berujung kematian seakan-akan hal yang biasa terjadi di sekitar area pembakaran jerami padi. Bahkan hal yang tak banyak orang sadari dibalik pembakaran jerami ternyata ada butiran-butiran silika yang dapat diolah menjadi produk-produk bernilai jual tinggi, seperti keramik glow in the dark, gigi palsu (green teeth), dan silika gel untuk pengganti Freon AC.
 
Limbah minyak jelantah dari para pedagang gorengan pun tak luput dari rasa kepedulian siswa-siswi Cendekia Harapan terhadap lingkungan. Minyak jelantah yang biasanya dibuang langsung ke tanah dan terkadang beberapa pedagang gorengan membuangnya ke sungai, dapat diolah menjadi sabun cuci tangan, sabun pel dan sabun cuci piring yang higienis.
 
Sampah bunga Kenanga dan Kamboja, serta kulit jeruk diubah menjadi pewangi untuk sabun tersebut. Tak hanya bagian dari tanaman yang sudah berguguran, daun Liligundi pun tak luput dari tangan-tangan mungil ini dan diubah menjadi esensial oil dalam obat nyamuk elektrik.
 
"Tanaman toga lainnya yang cenderung tidak disukai karena aroma dan rasanya yang kurang enak juga diubah menjadi produk-produk yang menarik, seperti dodol jahe, wedang, dan coklat rempah," sebut Lidia.
 
Lidia menambahkan, jika semangat berbagi kurang dari 10 generasi muda bangsa ini dapat menjadi pendorong dalam diri setiap warga Negara Indonesia, tentunya masalah yang dihadapi Indonesia dapat terselesaikan dengan cepat.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif