Tampak luar Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha’ di Desa Adat Geriana Kauh, Bali. Foto: UI/Humas
Tampak luar Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha’ di Desa Adat Geriana Kauh, Bali. Foto: UI/Humas

UI dan Masyarakat Adat Bali Dirikan Museum 'Sanghyang Dedari'

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 13 November 2019 14:22
Jakarta: Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu budaya Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) UI dan Masyarakat Adat Geriana Kauh dalam meresmikan ‘Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha’ di Desa Adat Geriana Kauh, Bali.
 
Dosen Filsafat FIB UI, LG Saraswati Putri mengatakan, pendirian museum ini didasarkan atas semangat tim Pengmas FIB UI yang didukung sepenuhnya oleh antusias masyarakat Bali untuk mencegah punahnya tradisi ritual tarian panen Bali. Diharapkan berdirinya museum berbasis komunitas ini dapat menjadi wadah dokumentasi dan pelestarian Tari SangHyang Dedari, Lontar dan kebudayaan lainnya bagi masyarakat.
 
Museum ini dibangun dengan luas 100 meter persegi dan dibangun di tengah Desa Adat Geriana Kauh yang sarat akan budaya. Desa ini dikenal sebagai desa dengan sawah padi organik yang memiliki daya tarik wisatawan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Museum tersebut akan menjadi pusat dokumentasi Tari Sang Hyang Dedari, baik itu foto, tulisan, maupun tayangan audio visual serta lontar berisi nyanyian Tari Sang Hyang Dedari.
 
Tari Sang Hyang Dedari merupakan tarian sakral yang telah ditetapkan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Saat ini, Desa Adat Geriana Kauh menjadi satu-satunya Desa di Bali yang secara konsisten menjalankan praktik ritual Tari menyambut panen “Tari Hyang Dedari”.
 
Tarian ini melibatkan anak-anak perempuan sebagai penari, komunitas penyanyi gending, dan seluruh masyarakat desa untuk mempersiapkan ritual persembahan lainnya. “Di tengah dinamika globalisasi yang menjadikan sebagian wajah Bali menjadi Kota Metropolitan. Kami memiliki kekhawatiran bahwa tarian Sanghyang Dedari akan terancam punah,” kata Saraswati dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Rabu, 13 November 2019.
 
Saraswati dan tim telah terjun langsung ke Desa Adat tersebut sejak 2016, untuk memahami, berafeksi dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. “Kami melihat bahwa masyarakat Desa Adat Geriana Kauh menyadari akan pentingnya melestarikan warisan budaya leluhur mereka. Untuk itu, kami menggagas pendirian museum ini sehingga dapat menopang keberadaan Tari Sang Hyang Dedari," papar Saraswati.
 
Usai peluncuran, Museum ini akan kami serahkan kepada masyarakat, sehingga bangunan akan menjadi milik komunitas dan nantinya akan dijalankan untuk kepentingan warga desa. "Kami mengarahkan warga adat setempat untuk dapat mempertahankan tradisi mereka sehingga ke depannya Desa Adat Geriana Kauh dapat menjadi pusat ekowisata desa,” harap Saraswati.
 
Tidak sebatas membangun dan mengisi Museum, Tim Pengmas FIB UI juga turut meningkatkan kapasitas masyarakat dengan memberikan edukasi pengelolaan Museum. Ia berharap masyarakat setempat dapat menjalankan operasional museum secara swadaya dan profesional.
 
Selain itu, Tim Pengmas juga membagikan ilmu mitigasi bencana. Pengetahuan ini menjadi sangat krusial mengingat Desa Adat Geriana Kauh berlokasi di Kawasan rawan bencana, khususnya rentan ancaman lahar serta awan panas letusan api Gunung Agung.
 
“Diharapkan, aksi nyata Tim Pengmas FIB UI di dalam membangun kapasitas dan kemandirian kelompok dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,” tutupnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif