Sejumlah pakar teknik sumber daya air UGM saat menyampaikan masukan soal penanganan banjir Jakarta. Foto: UGM/Dok. Humas
Sejumlah pakar teknik sumber daya air UGM saat menyampaikan masukan soal penanganan banjir Jakarta. Foto: UGM/Dok. Humas

Pakar UGM Beri Masukan Atasi Banjir Jakarta

Pendidikan banjir jakarta Jakarta Banjir
Citra Larasati • 07 Januari 2020 13:50
Jakarta: Banjir yang menerjang Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pekan lalu mencuri perhatian sejumlah pihak untuk turut urun memberikan solusi. Salah satunya datang dari pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memberikan sejumlah masukan mengatasi banjir melalui model pengendalian air secara terpadu (integrated water resource management/IWRM).
 
Pakar Teknik sumber daya air UGM, Prof. Budi Santoso Wignyosukarto mengatakan, pengelolaan banjir merupakan salah satu bagian dari pengelolaan sumber daya air. Menurutnya, dalam pengelolaan sumber daya air harus dilakukan terpadu secara hidrologis, mulai dari hulu hingga ke hilir.
 
“Kenapa harus dikelola secara terpadu? Karena ada konflik nilai sosial, ekonomi, lingkungan dan politik di dalamnya,” kata Budi dikutip dari laman UGM, Selasa, 7 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Budi mengatakan, banjir di Jabodetabek terjadi salah satunya akibat curah hujan yang cukup tinggi. Namun di sisi lain, drainase internal tidak mampu mengalirkan air dengan baik.
 
Oleh sebab itu, harus dilakukan manajemen air dengan baik. Selain itu, juga manajemen penggunaan tanah untuk daerah resapan air serta manajemen manusia dalam mengelola sumber daya air.
 
Terkait langkah normalisasi, Budi menyebutkan bahwa hal ini dapat dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi banjir. Namun untuk mendukung upaya normalisasi, saluran drainase harus lebih diperkuat strukturnya dengan beton agar tahan erosi.
 
“Naturalisasi juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi banjir. Namun, perlu diingat untuk membuat saluran naturalisasi dengan debit besar membutuhkan tampang luas dan apakah Jakarta bisa membuat tampang lebar dengan membuang penduduk di tepi sungai?,” katanya.
 
Sistem polder yang merupakan kombinasi tanggul dan pompa, disebutkan Budi, juga dapat digunakan untuk mengatasi banjir. Konsep ini bisa dipakai di sejumlah tempat dengan ketinggian muka air tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.
 
“Upaya lain untuk mengurangi banjir dengan memperbanyak ruang terbuka hijau untuk daerah resapan,” jelasnya.
 
Sementara Prof. Ir. Nur Yuwono, Dip.H.E., Ph.D. mengatakan, perlunya mengubah cara pandang dalam penyelesaian persoalan banjir. Anggapan bahwa air menjadi barang yang tidak berguna perlu diubah menjadi barang yang memiliki nilai kemanfaatan tinggi.
 
Oleh sebab itu, perlu pengendalian banjir dengan pengelolaan sumber daya air. Tak hanya itu, Nur Yuwono mengatakan, menangani banjir bisa dilakukan dengan menangani air dari sumbernya serta penanganan hujan lokal dengan sistem jaringan.
 
Selain itu, juga harus dilakukan secara terintegrasi. “Kesadaran masyarakat di daerah tangkapan air juga perlu dibangun,” tuturnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif