ilustrasi penjualan buku.  Foto: MI/Rommy Pujianto.
ilustrasi penjualan buku. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Toko Online Jual Buku Bajakan Bisa Dipidana

Pendidikan Literasi
Kautsar Widya Prabowo • 11 September 2019 21:18
Jakarta: Industri penerbit buku memiliki hak menyeret pengelola toko online ke ranah hukum jika terbukti memfasilitasi penjualan buku bajakan. Hal tersebut berpatokan pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
 
"Bagaimana orang yang mengelola perdagangan pasal 10 UU Hak Cipta disebutkan pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan penggandaan barang hasil pelanggaran hak cipta," ujar Kasubdit Pelayanan Hukum Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri Agung Damarsasongko kepada Medcom.id, di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 11 September 2019.
 
Agung menyebut, frasa tempat tidak terpatok pada lokasi, melainkan dapat diartikan segala tempat termasuk dunia maya. Sehingga dalam konteks pembajakan buku yang kerap ditemukan dalam pasar elektronik dapat dijerat dengan hukuman pidana pada pasal 144 UU Hak Cipta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sanksi pidananya di (pasal) 114 UU hak cipta dengan pidana denda paling banyak Rp100 juta," jelasnya.
 
Saat ini ia mendorong kepada penulis atau penerbit buku agar bergerak membawa ke ranah hukum, jika merasa karya-karyanya dibajak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya saat ini Agung menyebut minim pelaku industri percetakan yang mempermasalahkan hal tersebut.
 
Ia menambahkan, ganjaran hukum tidak hanya dalam bentuk denda saja. Pengelola pasar online dapat terancam diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).
 
"Bisa dilaporkan ke Dirjen Kekayaan Intelektual, nanti memberikan rekomendasi kepada Kominfo supaya ditutup hak aksesnya untuk mengedarkan akses konten pelanggaran hak cipta," tuturnya.
 
Kondisi tersebut dirasakan oleh Ketua Perkumpulan Reproduksi Cipta (PRCI), Kartini yang menyebut pembajakan tidak lagi dalam ranah offline tapi juga ranah online. Bahkan penjualannya ditunjukan secara terang-terangan produk yang dijual bajakan.
 
"Orang enggak malu lagi nanya ini original atau KW (barang palsu). Nanti dibalas sama penjualnya, KW gan. KW kan palsu. Jadi sudah tidak malu-malu lagi," pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif