Ilustrasi. Foto: Dok. Unika Atmajaya
Ilustrasi. Foto: Dok. Unika Atmajaya

Dosen Atma Jaya Masuk Tim Pakar Penanganan Covid-19 BPPT

Pendidikan Virus Korona beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 30 Maret 2020 19:14
Jakarta: Kepala Program Studi Magister Teknik Elektro Fakultas Teknik Universita Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Lukas terpilih menjadi Tim Pakar Artificial Intelligence (AI) Task Force BPPT Covid-19. Terpilihnya Lukas ini merupakan bagian dari kontribusi Unika Atma Jaya dalam menangani ancaman persebaran pandemi virus Korona di Indonesia.
 
Lukas mengatakan, dalam kondisi sekarang ini, virus covid-19 menjadi ancaman dan ini harus diatasi dengan cepat. Ia pun akan mengoptimalkan kesempatan untuk berkontribusi bagi negara dengan keahliannya di AI atau kecerdasan buatan.
 
“Kita semua sebagai anak bangsa ingin berkontribusi kepada Indonesia dalam menangani pandemi covid-19 ini sesuai kemampuan kita masing-masing. Karena saya bergelut di bidang artificial intelligence (AI), maka ini yang bisa saya sumbangkan,” kata Lukas dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Jakarta, Senin, 30 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lukas yang juga merupakan dosen Fakultas Teknik ini juga mengajak setiap orang dan institusi tergerak untuk berperan lebih luas bagi masyarakat dan bangsa. “Kita tahu bahwa setiap orang, institusi dan lembaga lainnya punya potensi di bidang masing-masing. Atma Jaya sendiri punya banyak potensi besar dan terbukti menghasilkan tokoh-tokoh nasional, bahkan internasional yang siap berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ungkapnya.
 
Tim Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC 19) ini bergerak khusus dalam pengembangan produk yang terkait dengan Test Kit Covid-19. Adapun produk yang akan dihasilkan dalam waktu dekat adalah Diagnostic Test Kit, yang dibuat berdasarkan strain virus lokal Indonesia.
 
“TFRIC19 ini tengah mengakselerasi pengembangan Test-Kit berbasis PCR (Polymerase Chain Reaction) Diagnostic Test Covid-19 maupun berbasis non-PCR untuk deteksi antigen dan antibodi,” papar Kepala BPPT Hammam Riza.
 
Selain mengembangkan kit tersebut, Kepala BPPT juga menuturkan bahwa TFRIC19 akan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam penanganan covid-19. Kecerdasan buatan, imbuhnya, dapat digunakan untuk menguatkan diagnostik dokter dalam mendeteksi virus covid-19.
 
Tim ini pun juga disokong para pakar di bidang teknologi informasi khususnya AI. Mulai dari berbagai unsur yakni BPPT, TNI AU, Unika Atma Jaya, ITB, UGM, UNHAN, Universitas Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Malang, UNTAG Surabaya, Startup Neurabot Lab, Asosiasi Profesi PB IDI, PAPDI, Indonesia AI Society, Healthcare.id, IABIE, INAPR dan APIC didukung oleh dokter ahli untuk interpretasi Radiologi dari RSUD-Koja dan FKUI-RSCM.
 
Hal ini dilakukan dengan model machine learning dan teknik terbaru deep learning untuk membangun model deteksi berbasis AI, dibantu dengan teknik AI berbasis knowledge growing system sebagai Decision Support System (DSS) dengan validasi dari radiolog dan dokter yang terkait, guna menjadi landasan pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pejabat yang berwenang.
 
“Kami akan membangun model AI, berdasarkan data X-Ray dan CT-Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, yang selanjutnya digunakan untuk melakukan deteksi dini, serta diagnosis pasien. Kami harap sistem berbasis AI ini akan melengkapi dan pengujian berbasis PCR, maupun whole genome sequencingcovid-19 Indonesia,"terang Hammam.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif