Mendikbud: Nilai Rata-rata UN SMP Terjun Bebas
Mendikbud Muhadjir Effendy. Foto: Humas Kemendikbud
Jakarta: Sama dengan nilai rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) jenjang SMA,  nilai rerata UN SMP pun mengalami penurunan.  Bahkan angka penurunannya melebihi jenjang SMA yang diumumkan beberapa waktu lalu.

"Penurunan nilai UN SMP lebih berat dibanding SMA," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy usai menghadiri rapat koordinasi nasional PGRI, di Jakarta, rabu, 23 Mei 2018 malam.


Pernyataan ini disampaikan Muhadjir, meskipun pengumuman hasil UN SMP baru secara resmi akan diumumkan di tingkat satuan pendidikan besok, Jumat, 25 Mei 2018.  Ketika ditanya lebih detail terkait berapa poin penurunan yang terjadi, Muhadjir meminta semua pihak menunggu pengumuman resmi tersebut.

Namun di balik penurunan itu, indeks integritas siswa SMP justru mengalami kenaikan.  Salah satunya karena 63 % siswa peserta UN SMP sudah mengikuti UN Berbasis Komputer (UNBK) di 2018.  "Tahun sebelumnya hanya 32 % yang UNBK, sekarang jadi 63 persen. Maka itu nilainya terjun bebas," tegas Muhadjir.

Penurunan ini, kata Muhadjir juga disebabkan karena keberadaan soal berstandar higher order thinking skills(HOTS).  Namun ia meminta kepada masyarakat agar tidak tergesa-gesa mengecap siswa-siswa Indonesia bodoh.

"Terbukti, meski nilai UN turun pada jenjang SMA, namun siswa yang mampu mengerjakan soal HOTS secara sempurna di matematikan misalnya, mengalami peningkatan dua kali lipatnya.  

Itu artinya kata Muhadjir, selama ini pemerintah terlalu rendah dalam menetapkan standar, padahal siswa kemampuannya lebih dari itu.  "Selama ini, kemampuan siswa kita 400, kita kasih soal yang kemampuannya 150," ungkap Muhadjir.

Pelatihan Guru

Mengingat penerapan pembelajaran berdaya nalar tinggi tidak dapat dihindari lagi, Muhadjir berharap ke depan ada penataan pelatihan guru untuk meresepon HOTS.  "Kalau mau generasi 4C (creativity and inovation, communication, critical thinking and problem solving, collaborative),tidak mungkin hanya menghapal, mengingat dan replikasi," jelasnya.

Muhadjir meminta PGRI untuk ikut membantu pemerintah dengan menggelar pelatihan-pelatihan berstandar HOTS pada guru-guru anggotanya. "Nanti kita siapkan modulnya," tegas Muhadjir.

Sementara itu, Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, pihaknya terus mendukung adanya pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi guru. "Kami mendukung adanya soal-soal dengan daya nalar tinggi, tapi kami berharap tidak hanya pada saat ujian tetapi juga pada saat pembelajaran," kata Unifah.

Penyerahan nilai UN SMP dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suahardi, Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian (Kabalitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno dan Dirjen PAUD Kemendikbud kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah, dan Bali pada 22 Mei kemarin.

Sebanyak 4.295.346 siswa mengikuti ujian nasional 2018 jenjang SMP/MTs. Bambang optimis siswa menyelesaikan UN dengan baik.

Untuk diketahui, UN jenjang SMP/MTs diselenggarakan pada 23-26 April 2018 lalu. Ada empat mata pelajaran yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia (Senin), Matematika (Selasa), Bahasa Inggris (Rabu), dan IPA (Kamis).

Sementara UN Susulan jenjang SMP/MTs dijadwalkan pada 8-9 Mei 2018. Dari total 56.528 sekolah SMP/MTs yang ada, 49 persen atau 27.919 sekolah di antaranya menggelar  UNKP, dan 51 persen sisanya atau 28.609 sekolah lainnya sudah Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Dari jumlah tersebut, total peserta UN SMP/MTs 2018 mencapai 4.295.346 siswa.  Di mana 1.600.793 siswa di antaranya mengikuti UNKP, dan 2.694.553 siswa mengikuti UNBK.

 



(CEU)