Prof Dr Achmad Syahid M.Ag dikukuhkan sebagai Guru Besar Pemikiran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Prof Dr Achmad Syahid M.Ag dikukuhkan sebagai Guru Besar Pemikiran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

UIN Syarif Hidayatullah Kukuhkan Dua Guru Besar Psikologi

Pendidikan Pendidikan Tinggi Guru Besar Perguruan Tinggi
Media Indonesia.com • 13 Januari 2021 22:18
Jakarta:  Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menambah dua guru besar di bidang ilmu psikologi. Prof Dr Achmad Syahid M.Ag dikukuhkan sebagai Guru Besar Pemikiran Islam, dan Prof Bambang Suryadi Phd sebagai guru besar bidang ilmu psikologi dan konseling.
 
Pada acara pengukuhan yang diselenggarakan di Auditorium Prof. Harun Nasution itu, Rektor UIN Jakarta, Amany Burhanuddin Umar Lubis menyampaikan, bahwa pengukuhan dua guru besar di bidang psikologi ini diharapkan dapat memberi khazanah keilmuan dan menambah optimisme tentang perkembangan pemikiran dan psikologi Islam. 
 
Menurut Amany, kajian psikologi Islam terbuka luas untuk dikaji dan hasilnya akan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Banyak tokoh muslim masa lalu yang menguasai banyak disiplin ilmu pengetahuan (polymath) yang berjasa di zamannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kiprah mereka di berbagai bidang keilmuan seperti Ibn Sina, Ibn Rush hasilnya dapat dirasakan di masyarakat hingga saat ini di bidang filsafat, matematika, kesehatan, dan lainnya," kata Amany.
 
Amany berharap, ke depan akan bermunculan ilmuwan-ilmuwan polymath di Indonesia. "Adapun psikologi Islam diperlukan untuk melengkapi ketidakmampuan ilmu psikologi umum yang jarang menaruh akhlak dalam kajiannya," ujarnya.
 
Baca juga:  UIN Jakarta Temukan Lima Mutasi Baru Covid-19 dari Banten
 
Dalam pengukuhan, Achmad Syahid menyampaikan orasi ilmiah berjudul Manusia-Manusia Polymath. Ia menjelaskan, bahwa dalam 50 tahun terakhir, istilah polymath digunakan dalam ratusan karya ilmiah.
 
Jika dipetakan, istilah polymath untuk menyebut para raksasa ilmu pengetahuan yang lahir dalam empat arus sungai besar khazanah tradisi pemikiran.  Yakni, peradaban Yunani-Latin (Greeco-Roman civilization) peradaban Yahudi-Kristen (Yudeo-Christian civilization), peradaban Arab-Islam (Arabo Islamic civilization) dan khazanah peradaban Hindu-Budha.
 
Keempat sungai besar peradaban itu kemudian mengalir bersama-sama ke peradaban Eropa Barat modern. Di dalam khazanah tradisi pemikiran Arab-Islam, kata Syahid, tidak mengenal dikotomi konsep ilmu. Ia bermakna satu dan memiliki hakikat yang satu pula.
 
Demikian juga tradisi khazanah pemikiran Yunani-Latin dan Yahudi-Kristen. Tidak mengenal batas-batas antara ilmu pengetahuan dan agama.
 
Asal dan tujuan puncaknya tunggal dari dan menuju Allah SWT. Hal itulah simbol manusia polymath di dalam khazanah intelektual Inggris; Eruditus dalam khazanah Yunani-Latin, dan polyglot dalam khazanah Perancis.
 
Hanya saja, imbuhnya, sejak revolusi industri 1760 hingga 1970-an dibangun penjara bagi pemikiran manusia yang bernama 'dikotomi' dan 'spesialisasi'. Antara 1850-2000 muncul era disebut the Age of Territoriality.
 
Hal tersebut, ungkap Syahid, sejatinya bertentangan dengan karakteristik manusia, mahkluk canggih yang memiliki bakat bawaan bersifat many sided potential. Sekadar menyebut nama Al Kindi, Al Razi, Al Farabi, Ibn Khaldun, al Tabari, al Suyuti dan lain-lain menguasai puluhan ilmu sekaligus secara mendalam.
 
Demikian juga Al-allamah dalam ranah budaya Arab, Afrika Utara, Persia, Turki, Urdu hingga Melayu-Indonesia. Nama Gus Dur dan Cak Nur (Nurcholis Madjid), menurut Syahid, adalah seorang polymath alam al alamah.
 
Termasuk para kyai di pesantren, para pendeta, uskup.  Mereka sebagai sumber pencerah pikiran umat. Karena berada di dalam puncak piramida masyarakat, mereka pusat informasi, sumber inspirasi, penggugah imajinasi, sekaligus penyerap aspirasi umat.
 
Dalam orasinya, Syahid menyebut manusia polymath tumbuh dalam institusi yang merawat diskursus seperti universitas, pesantren, madrasah. Institusi seperti itu dapat memecah berbagai kebuntuan sekaligus melunakkan isu-isu keras, sensitif, dan memicu sektarianisme, radikalisme, terorisme, otoritarianisme. Institusi seperti itu bisa memajukan moderasi dan kerukunan antarsesama umat manusia.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif