"Kalau boleh jujur, dulu gua SMP, kelas tiga apa kelas satu SMP lupa deh, gua olahraga merah loh di sekolah," kata Taufik dalam siniar youtube totalpolitik, dikutip Senin 31 Agustus 2026.
Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) itu pun mengaitkan pengalaman tersebut dengan sistem pendidikan. Terutama mapel olahraga dalam sekolah.
Baca juga:
10 Kampus Top Dunia Pencetak Peraih Nobel Terbanyak, Ada Incaranmu? |
Ia menduga nilai tersebut tidak terlepas dari perbedaan cabang olahraga yang diminatinya dengan olahraga yang lebih banyak diajarkan di sekolah. Saat itu, sekolah lebih fokus pada olahraga bola voli dan bola basket, sementara Taufik menekuni bulu tangkis.
Menurut Taufik, siswa seharusnya tidak mendapatkan penilaian buruk hanya karena tidak menonjol dalam cabang olahraga tertentu. Apalagi, setiap anak memiliki minat dan potensi olahraga yang berbeda.
"Kalau memang olahraganya jelek, merah ya kita fine aja, tapi ini gara-gara enggak suka olahraga voli sama basket kok jadi merah kan enggak fair dong," ujarnya.
Nilai Taufik akhirnya berubah setelah pelatih bulu tangkisnya datang ke sekolah. Taufik menyebut pelatihnya saat itu merupakan Ketua Bulu Tangkis sekaligus memiliki hubungan dengan Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat.
"Untung waktu itu ketua bulu tangkis pelatihnya Kanwil Dikbud Jawa Barat, dia datang ke sekolah. Eh besoknya sembilan," ujar Taufik sambil tertawa.
Dari cerita tersebut, Taufik mengakui masih terdapat persoalan dalam sistem pendidikan olahraga, terutama di tingkat SD dan SMP. Menurut dia, keterbatasan fasilitas dan kapasitas tenaga pengajar menjadi persoalan yang perlu dibenahi.
"Memang ada problem. Karena yang sekarang itu kan kebanyakan di sekolah itu SD, SMP, apalagi sekolah negeri, satu fasilitasnya juga kurang," katanya.
Kemenpora, lanjut Taufik, kini telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memperkuat guru-guru olahraga. Menurut dia, pembinaan olahraga sejak usia sekolah sangat penting karena menjadi fondasi dalam melahirkan atlet berprestasi.
"Karena bahan-bahan olahraga itu kan dari SD, SMP itu. Kalau kita pondasi enggak kuat mana bisa jadi atlet yang bener. Kalau latihannya salah, ke sananya juga akan salah," tegasnya.
Baca juga:
Kerja Jalan Terus! President University Buka Kuliah S1 Full Online Kelas Dunia |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda