NEWSTICKER
Kepala BPPT Hammam Riza. Foto: BPPT/Humas
Kepala BPPT Hammam Riza. Foto: BPPT/Humas

BPPT Kaji Terap Driverless Ecosystem Ibu Kota Baru

Pendidikan Riset dan Penelitian Ibu Kota Baru
Muhammad Syahrul Ramadhan • 26 Februari 2020 14:38
Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah menyiapkan ekosistem untuk penerapan kendaraan tanpa pengemudi di ibu kota baru. Ini merespons keinginan Presiden Joko Widodo agar ibu kota yang terletak di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur ini memiliki moda transportasi tanpa sopir.
 
Kepala BPPT Hammam Riza menyebut, kendaraan tanpa pengemudi untuk dapat berjalan lancar di suatu wilayah, membutuhkan ekosistem penunjang. Saat ini pihaknya telah menyiapkan konsep ekosistem penunjang, bernama Driverless Ecosystem yang terus dikaji terap oleh para perekayasa di BPPT.
 
Hammam menyebutkan, ada beberapa hal yang harus dibangun dalam percobaan ekosistem untuk hilirisasi ekosistem kendaraan otonom. “Ekosistem kendaraan otonom atau Driverless Ekosistem, harus dibangun secara bertahap di antaranya dengan level automation. Ada lima level, mulai dari parsial, no automation at all, sampai full automatisasi dengan infrastruktur yang memadai,” papar Hammam dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Selasa, 25 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, untuk membangun ekosistem tersebut ada hal mendasar yang diperlukan, yaitu tersedianya infrastruktur yang mumpuni. Mulai dari infrastruktur transportasi, hingga infrastruktur di bidang telekomunikasi.
 
“Artificial Intellegence (AI) dan 5G sangat dibutuhkan dalam autonomous ini. Dalam lima tahun ke depan, seluruh konsep driverless ini harus dibuktikan dengan pilot project untuk sampai ke alih teknologi dan melakukan difusi teknologinya," jelasnya.
 
Lebih lanjut Hammam menyebut, Pilot project diperlukan untuk melihat model yang tepat, dalam pembangunan driverless public transportation di ibu kota negara. BPPT, kata dia, memiliki fasilitas dan pengalaman dalam pengujian transportasi publik, seperti uji LRT Jabodebek, MRT, dan infrastruktur pendukungnya.
 
“Jadi kami pun siap melakukan kajian dalam menentukan model yang tepat untuk Bus Rapid Transit (BRT), Autonomous Rail Transit (ART), hingga Light Rail Transit (LRT),” ujarnya.
 
Ia pun menyarankan, agar ada kawasan khusus untuk uji coba kendaraan autonomous, yang menjadi pilot project mini ecosystem driverless transportation. “Kawasan ini akan menjadi miniatur, untuk menguji secara real kehandalan dari kendaraan otonom, serta kesiapan infrastruktur pendukungnya,” terangnya.
 
Selain menyoroti soal ekosistem. Hammam juga menyoroti perlu adanya regulasi untuk keamanan berkendara. “Saat ini Undang undang No 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan aturan jalan, belum mengatur tentang driverless. Karenanya perlu adanya harmonisasi semua aturan dan regulasi. Diperlukan juga dalam membuat safety driving-nya, sistem kendali, antarpengendara dan kendaraan, serta hal lainnya,” ungkap Hammam.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif