Dekan FKKMK, UGM Ova Emilia (tengah). Foto:  Medcom.id/Patricia Vicka
Dekan FKKMK, UGM Ova Emilia (tengah). Foto: Medcom.id/Patricia Vicka

UGM Kupas Isu Kesehatan Mental di Winter Course

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Patricia Vicka • 14 Januari 2020 19:05
Yogyakarta:Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK), Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Winter Course on Interprofessional Health Care pada 13-24 Januari 2020. Pada gelaran Winter course keempat ini UGM mengambil Kesehatan Mental di Era Milenial.
 
Dekan FKKMK UGM, Ova Emilia menjelaskan, isu kesehatan mental diangkat karena sudah menjadi problem besar yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. “Masalah ini perlu ditangani bersama-sama keluarga dan komunitas. Bukan hanya ditangani Rumah Sakit saja,” ucap Ova di UGM , Selasa, 14 Januari 2020.
 
Ia menjelaskan, Data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi orang gangguan jiwa berat meningkat dari 0,15% menjadi 0,18%. Selain itu, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia 15 tahun ke atas juga meningkat dari 6,1% pada 2013 menjadi 9,8% di 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Artinya, sekitar 12 juta penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas menderita depresi,” paparnya.
 
Kemajuan teknologi digital dan perkembangan media sosial kerap disebut sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental. Terutama yang berkaitan dengan kecanduan gawai.
 
Sementara itu, Ketua Departemen Psikiatri dr. Carla R. Marchira mengatakan, tren bunuh diri juga semakin meningkat. Secara global, organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan, bahwa lebih dari 800 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri.
 
Jumlah ini artinya, ada satu orang yang bunuh diri setiap 40 detik sekali. “Kasus bunuh diri 60 persen terjadi karena depresi. Tapi seringnya orang tidak merasa kalau dia mengalami depresi,” kata dia.
 
Ia menambahkan, masyarakat perlu bijaksana dalam memilah setiap informasi dan tidak mudah percaya terhadap hal-hal yang didengar. Informasi yang tidak akurat, menurutnya, justru akan menimbulkan masalah yang lebih serius.
 
Ia pun mendorong masyarakat untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog atau psikiater jika merasa mengalami masalah terkait kesehatan mental. “Kalau malu untuk pergi ke psikolog, setidaknya bisa ke konselor. Carilah informasi yang paling akurat,” ujar Carla.
 
Guru besar dari Universitas Sydney, Hans Pols mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan gawai. Gawai bisa menjadi sesuatu yang positif jika bisa digunakan secara benar.
 
“Misalnya Orang yang punya social anxiety, bisa saling mendukung karena mereka memiliki telepon seluler. Jadi tergantung dari bagaimana itu digunakan,” terangnya.
 
Untuk diketahui, para peserta Winter Course ini berasal dari beberapa negara, di antaranya Indonesia, Nepal, Malaysia, Australia, dan Thailand
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif