Ilustrasi aplikasi MELON. DOK ITS
Ilustrasi aplikasi MELON. DOK ITS

Mahasiswa ITS Gagas Aplikasi MELON, Layanan Konsultasi Kesehatan Mental

Pendidikan inovasi kesehatan mental Perguruan Tinggi ITS Mahasiswa
Renatha Swasty • 28 April 2022 17:44
Jakarta: Kesehatan mental masih menjadi stigma bagi beberapa orang termasuk di kalangan mahasiswa. Sebanyak lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas aplikasi layanan konsultasi kesehatan mental yang dikenal dengan MELON (Mental Online Assistant) untuk membantu penderita gangguan mental merasa aman dan nyaman ketika membicarakan kesehatan mentalnya.
 
Ketua Tim Akhmad Miftakhul Ilmi mengatakan kesehatan mental masih menjadi salah satu masalah yang belum terselesaikan di masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Dia menuturkan sulitnya mendeteksi penderita gangguan mental membuat masalah ini semakin sulit ditangani.
 
“Hal tersebut turut diperparah dengan adanya pandemi covid-19 ini,” kata Miftah dalam keterangan tertulis, Kamis, 28 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Miftah mengungkapkan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, lebih dari 19 juta remaja di Indonesia mengalami gangguan mental. Walaupun angka tersebut tergolong tinggi, obrolan mengenai kesehatan mental masih dianggap tabu di Indonesia.
 
“Tidak seharusnya mereka mendapat stigma yang dapat membawa dampak buruk seperti dikucilkan atau diskriminasi, justru mereka yang perlu kita dukung,” kata dia.  
 
Melihat hal itu, Miftah dan tim merancang aplikasi MELON. Melalui aplikasi ini, penderita gangguan mental dapat berkonsultasi secara daring dengan nyaman.
 
“Pengguna juga dapat melakukan pemeriksaan awal terhadap kesehatan jiwanya, kemudian MELON akan memberikan saran untuk meningkatkan kondisi mental mereka,” papar Miftah.
 
Mahasiswa tahun ketiga ini menjelaskan dalam membangun aplikasi MELON digunakan metode analisis clustering. Hal itu untuk membentuk kelompok-kelompok yang digunakan sebagai acuan dalam menentukan rekomendasi untuk pengguna sesuai dengan kondisi mentalnya.
 
“Sistem kami membagi kelompok tersebut menjadi tiga, yaitu gangguan kesehatan jiwa risiko rendah, sedang, dan berat,” tutur dia.
 
Aplikasi MELON juga menyediakan fitur Let’s Get It yang berisi berbagai subfitur yang dapat dimanfaatkan sesuai minat pengguna. Yaitu, MELON Healing yang di dalamnya terdapat berbagai video meditasi, MELON Literature yang berisi artikel terkait kesehatan mental, dan MELON Music.
 
“Harapannya dengan fitur ini dapat meringankan gangguan mental yang diderita pengguna,” tutur mahasiswa Departemen Statistika ini.
 
Fitur lainnya, ialah chatbot yang memungkinkan pengguna dapat berinteraksi secara interaktif. Pengguna dapat bercerita dengan aman mengenai kondisinya kemudian fitur chatbot akan merespons dan memberikan rekomendasi yang berbeda-beda tergantung kondisi pengguna.
 
“Selain itu, kami berencana untuk mengintegrasikan aplikasi MELON dengan psikolog serta medical center dari berbagai universitas,” ujar dia.
 
Anggota lain yang turut menggagas MELON, yakni Andrea Ernest, Aulia Kharis Rakhmasari, Dede Yusuf P Kuntaritas, dan Lilik Setyaningsih. Tim berharap ke depan rancangan aplikasi MELON segera terealisasi.
 
Sehingga, dapat digunakan oleh mahasiswa yang membutuhkan. Selain itu, diharapkan mahasiswa menjadi lebih terbuka terkait kesehatan mentalnya.
 
Melalui inovasi berjudul MELON (Mental Online Assistant): An Artificial Intelligence Application to Assist Indonesian College Student in Reducing Mental Health Problem, Miftah dan tim berhasil meraih medali emas dalam ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2022 kategori Social Science and Technology.
 
Baca: Mahasiswa ITB Ciptakan Depression Test, Alat Deteksi Stres dari Urine
 
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif