Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Ada Peluang Remedial bila Gagal di Asesmen Kompetensi

Pendidikan Ujian Nasional
Intan Yunelia • 14 Desember 2019 17:50
Jakarta: Sistem asesmen kompetensi dan survei karakter membuka lebar pintu perbaikan bila peserta didik mendapatkan nilai rendah saat penilaian. Hal ini berbeda dengan ujian nasional (UN).
 
"Makanya dilakukan di tengah-tengah anak-anak usia kelas 4, 8, dan 11. Itu masih ada jeda untuk melakukan perbaikan sekitar 2 atau 1,5 tahun," kata Kepala Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ade Erlangga Masdiana dalam diskusi di Hotel Ibis Tamarin, ?Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta? Pusat, Sabtu, 14 Desember 2019.
 
Menurut dia, hasil UN selama ini tidak berdampak apa-apa. Pasalnya, nilai UN juga tidak menjadi pegangan bagi siswa untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"(Masuk) perguruan tinggi didasarkan SBMPTN (seleksi bersama perguruan tinggi negeri). Jadi sebenarnya ini menjadi sia-sia. Biaya begitu sangat besar kalau diuji," tutur dia.
 
Di sisi lain, asesmen kompetensi dan survei karakter bakal membuat potensi-potensi kemampuan masing-masing anak bisa dideteksi. Hal ini berbeda dengan UN yang membuat kemampuan anak disamaratakan.
 
"Asesmen itu untuk dilakukan pemetaan kompetensi minimum. Anak-anak itu, guru dan sekolah itu diasesmen dan dilakukan penelitian untuk bisa dilakukan perbaikan ke depan," jelas dia.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menetapkan sistem asesmen untuk menggantikan UN. Asesmen mulai diterapkan di 2021, sekaligus menegaskan UN 2020 menjadi yang terakhir.
 
"Asesmen kompetensi minimum dan survei karakter terdiri atas kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter," kata Nadiem, Rabu, 11 Desember 2019.
 
Ujian dilakukan siswa yang berada di tengah jenjang sekolah sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya.
 
"Arah kebijakan ini juga mengacu pada praktik di level internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment) dan TIMSS (The Trends in International Mathematics and Science Study)," tutur mantan bos Gojek itu.
 

 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif