Menteri Senior Kamboja yang bertanggung jawab atas Misi Khusus Othsman Hassan memberi kuliah umum di Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta (31/10).  Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Menteri Senior Kamboja yang bertanggung jawab atas Misi Khusus Othsman Hassan memberi kuliah umum di Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta (31/10). Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Kuliah Umum UAI Undang Menteri Kamboja

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 31 Oktober 2019 15:43
Jakarta: Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) menggelar kuliah umum dengan narasumber Menteri Senior Kamboja yang bertanggung jawab atas Misi Khusus, Othsman Hassan. Kuliah umum ini mengusung tema 'Muslim Relation of Cambodi and Indonesia: between Hopes and Realities'.
 
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin dalam sambutannya mengatakan kuliah terbuka dengan Othsman Hassan sebagai narasumber, untuk mengetahui sejarah kedekatan Indonesia dan Kamboja, dan juga bagaimana perkembangan Islam di sana.
 
Asep menyebut, nenek moyang Indonesia dan Kamboja memiliki kedekatan. Ia mencontohkan, salah satunya ada kemiripan wajah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita akan menyambungkan kembali sejarah panjang antara dua negara dekat Indonesia dan Kamboja. Beberapa hal yang ada di Indonesia berasal dari Kamboja, dan beberapa hal yang ada di Kamboja juga berasal dari Indonesia," ujar Asep di Gedung Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 31 Oktober 2019.
 
Othsman membuka kuliah umumnya dengan menceritakan bagaimana muslim di Kamboja yang notabene negara Buddhis diperhatikan dan diberi ruang oleh Raja Kamboja Samdech Preah Bâromneath Norodom Sihamoni. Ia menyebut dari total penduduk kamboja lima persen di antaranya merupakan umat muslim.
 
"Kamboja adalah negara Buddhis karena memiliki 93 persen, muslim lima persen, agama lain dua persen. Tapi kami sangat beruntung, umat muslim dan umat agama lainya. Karena meski kepala negara dari Buddhis, namun tetap menjaga semua umat agama, termasuk muslim," terangnya.
 
Othsman mengatakan, meski jumlah umat islam hanya lima persen, tetap mendapat dukungan dari Pemerintah Kamboja. Salah satunya, yang dilakukan Perdana Menteri Kamboja Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen yang mengharuskan semua rumah sakit memiliki ruang untuk umat muslim salat.
 
Selain itu, sejak 2015 lalu untuk guru agama Islam mendapatkan gaji. Setelah hampir 500 tahun lalu kata Othsman hal tersebut tidak pernah ada.
 
"Pemerintahan Perdana Menteri Hun Sen, memberi gaji kepada guru muslim, sebanyak 1.500 guru muslim. Selain itu juga, mengangkat guru muslim menjadi staf pemerintahan. Pemerintah memberi 200 guru kontrak guru yang pensiun, total 1.700 guru, sekitar USD7 juta untuk membayar gaji guru muslim," paparnya.
 
Selain itu, sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta juga memperbolehkan pelajar muslim berkerudung. Tidak harus menggunakan seragam sekolah. "Dia (PM Hun Sen) membuat keputusan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi harus menerima wanita muslim untuk menggunakan pakaian muslim, boleh pakai kerudung, boleh baju panjang. Tak perlu ikut seragam di sekolah tersebut," kata Othsman.
 
Kebijakan tersebut, kata Othsman, berhasil meningkatkan jumlah siswi dan mahasiswi si sekolah dan perguruan tinggi setempat. "Alhamdulillah, setelah itu kita mempunyai banyak wanita di sekolah dan perguruan tinggi," jelasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif