Studi Mitigasi Kebencanaan akan Digarap Serius
MI/Susanto
Jakarta:  Studi tentang kajian mitigasi kebencanaan di Tanah Air masih minim.  Padahal, Indonesia merupakan negara rawan bencana alam, mulai dari bencana banjir, longsor, hingga gempa bumi.

Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api pasifik (ring of fire), ditambah sebagai negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia, membuat negeri ini akrab dengan bencana alam.  Namun minimnya studi mitigasi kebencanaan, membuat kesiapan Indonesia terkesan rendah setiap kali bencana tersebut datang. 


“Kami akan kembangkan terus dan ini (studi mitigasi kebencanaan) yang menjadi passionKemenristekdikti,” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir usai konferensi pers Empat Tahun Capaian Kinerja Kemenristekdikti dari Unsur LPNK’ di Gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Selasa, 30 Oktober 2018.

Sebenarnya beberapa jenis potensi bencana, seperti kebakaran hutan di musim kemarau sudah dapat termitigasi dengan baik.  Upaya mitigasi permasalahan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan misalnya, pemerintah telah berhasil mengembangkan teknologi modifikasi cuaca.

“Masalah asap kita kemungkinan sudah selesai, dengan teknologi modifikasi cuaca. Ini Kalimantan dan Sumatera Alhamdulillahtidak pernah terjadi bencana kebakaran yang parah lagi,” ujar Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Baca: Mendikbud Tekankan Penggunaan Tenda Darurat Hanya Sementara

Kemudian upaya penanggulangan banjir,  Kemenristekdikti bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Teknologi modifikasi cuaca memungkinkan mengalihkan awan hujan tak turun di daerah rawan banjir.   

"Namun studi ini masih dalam proses," ujar Nasir.




(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id