Rektor IPB University Arif Satria. Zoom
Rektor IPB University Arif Satria. Zoom

IPB Sediakan 200 Kasur untuk Isolasi Mahasiswa di Asrama

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi isolasi virus korona Perguruan Tinggi IPB
Ilham Pratama Putra • 03 Desember 2020 11:02
Jakarta: Mahasiswa dari berbagai daerah diprediksi bakal kembali datang ke kampus seiring dibukanya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Januari 2020. Saat mahasiswa datang dari berbagai daerah, maka mereka dikhawatirkan membawa virus korona (covid-19) dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG).
 
Terlebih nantinya mereka bakal menempati kembali indekosnya. Sementara, di dalam indekos besar kemungkinan mahasiswa tidak menjalankan protokol kesehatan (prokes).
 
Untuk itu, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyediakan ruang isolasi di kampus mereka bagi mahasiswa yang datang dari luar daerah. Hal ini guna menurunkan resiko penularan virus korona saat kuliah tatap muka kembali digelar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hal yang krusial adalah menjalankan protokol di wilayah kos-kosan. IPB sudah menyiapkan 200 tempat tidur di asrama untuk mahasiswa bila memerlukan isolasi mandiri," terang Rektor IPB, Arif Satria kepada Medcom.id, Kamis, 3 Desember 2020.
 
Pun pihaknya juga melakukan koordinasi dengan pemilik indekos di sekitar kampus. IPB meminta agar ada penerapan prokes yang ketat dalam indekos.
 
Baca: Pembukaan Kampus, Indekos Mahasiswa Dikhawatirkan Jadi Klaster Covid-19
 
Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam mengatakan mahasiswa yang kembali dari daerah asalnya untuk memastikan kesehatan sebelum masuk ke kampus. Salah satu caranya dengan melakukan swab test.
 
"Bisa melakukan swab test atau tes usap. Atau yang lebih murah adalah datang ke kota tempat kampus itu berada dan melakukan itu isolasi mandiri selama 14 hari," terang Nizam webinar terkait surat edaran pembelajaran selama masa pandemi covid-19, Rabu, 2 Desember 2020.
 
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi mahasiswa tersebut sehat dan tidak menjadi sumber penularan bagi teman-temannya. Selain itu, jika mahasiswa memiliki penyakit penyerta atau komorbid, Nizam menyarankan agar mahasiswa tersebut sebaiknya mengikuti pembelajaran daring.
 
"Kalau tidak sebaiknya mengikuti pembelajaran secara daring saja," ujar Nizam.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif