Ilustrasi. Medcom.id/Citra Larasati
Ilustrasi. Medcom.id/Citra Larasati

Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Opsi Membuka Sekolah Berbahaya

Pendidikan Virus Korona sekolah
Citra Larasati • 25 Mei 2020 11:33
Jakarta:  Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) meminta Pemerintah mempertimbangkan kembali opsi membuka sekolah untuk kegiatan tatap muka di tahun ajaran baru Juli mendatang.  Masih tingginya kasus covid-19 di Indonesia akan sangat berbahaya bagi warga sekolah jika sekolah sampai diputuskan dibuka untuk tatap muka.
 
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Nadia Fairuza Azzahra mengatakan, saat ini Pemerintah sedang mengkaji dan merencanakan berbagai alternatif untuk mempersiapkan tahun ajaran baru 2020/2021.  Rencananya, tahun ajaran baru akan tetap dimulai pada Juli 2020, meski belum ditetapkan apakah sekolah dibuka untuk tatap muka atau masih menerapkan pembelajaran jarak jauh.
 
Namun saat ini, tren kasus di Indonesia masih cenderung tinggi. Nadia menilai, jika jumlah kasus tidak menurun secara signifikan hingga Juli, keputusan untuk membuka sekolah akan sangat berbahaya bagi kesehatan peserta didik, tenaga pendidik, juga orang tua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tanpa adanya komitmen yang kuat dari pemerintah dalam mengatasi pandemi, keputusan untuk melanjutkan pendidikan jarak jauh masih merupakan alternatif yang baik dilakukan.  Terlepas dari berbagai keluhan terkait dengan kurangnya akses dan lain sebagainya," kata Nadia dalam keterangannya di Jakarta, Senin 25 Mei 2020.
 
Baca juga:  Pakar UI: Perlu Regulasi Atur Protokol Kehidupan New Normal
 
Nadia menyampaikan, Pemerintah perlu mengkaji pertimbangan untuk mengembalikan kegiatan belajar mengajar ke sekolah. "Kondisi persebaran Covid-19 di setiap daerah pun akan berbeda-beda dan hal ini tentu membutuhkan penanganan yang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah,” jelas Nadia.
 
Namun, kata Nadia, apabila pemerintah benar-benar mempertimbangkan untuk membuka sekolah pada Juli kelak, aspek kesehatan tetap harus menjadi prioritas utama. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengkaji tiga alternatif dalam membuka sekolah.
 
Pertama adalah membuka sebagian sekolah dan memperbolehkan semua siswa yang bersangkutan masuk ke sekolah.  Kedua, membuka sebagian sekolah dan hanya memperbolehkan sebagian siswa untuk masuk ke sekolah.
 
Sementara yang ketiga, membuka semua sekolah dan hanya sebagian siswa yang diperbolehkan masuk sekolah.  Terlepas dari adanya tiga alternatif tersebut, protokol pelaksanaan kegiatan belajar di sekolah pada masa pandemi covid-19 wajib dirancang untuk menjamin keselamatan semua pihak.
 
Belajar dari negara Jepang yang telah membuka sekolah, Kementerian Kesehatan Jepang mengharuskan sekolah-sekolah untuk membuka ventilasi, menerapkan physical distancing, mengecek suhu badan siswa dan guru setiap hari, serta mewajibkan penggunaan masker.
 
Apabila pemerintah ingin membuka sekolah, lanjut Nadia, akses terhadap peralatan kebersihan dan kesehatan seperti masker, sabun, disinfektan, atau hand sanitizer juga harus dipermudah.
 
Selain memberikan bantuan kepada sekolah, pemerintah juga dapat memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menggunakan dana BOS dalam upaya memperlancar kegiatan belajar mengajar di tengah covid-19. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar juga wajib mengikuti prinsip physical distancing di area sekolah.
 
Peserta didik diharapkan tidak boleh berkumpul dalam jumlah besar untuk menghindari penyebaran covid-19. Selain itu, para tenaga pendidik dan orang tua juga wajib diedukasi untuk selalu menaati protokol yang telah ditetapkan.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif