Kabalitbangbuk) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo. Tangkapan layar.
Kabalitbangbuk) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo. Tangkapan layar.

Soal AN Dinilai Singgung Isu SARA, Ini Respons Kemendikbudristek

Pendidikan Kebijakan pendidikan Asesmen Kompetensi Minimum Asesmen Nasional
Ilham Pratama Putra • 27 Juli 2021 20:27
Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) buka suara terkait kabar adanya variabel soal Asesmen Nasional (AN) yang menyinggung isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) hingga kesetaraan gender. Sejumlah variabel soal yang dijabarkan dinilai untuk mengukur kadar kebhinekaan di sekolah.
 
"Itu bagian dari iklim kebhinekaan. Dan itu hasilnya akan kita kembalikan ke sekolah untuk melakukan refleksi diri. Apakah sekolah saya sudah cukup aman, dan cukup inklusif apa belum," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo dalam Bincang Pendidikan, Selasa, 27 Juli 2021.
 
Nino, sapaannya, mengatakan, jika ternyata dari soal-soal tersebut skornya rendah, maka ada sinyal sekolah tersebut tidak memiliki iklim kebhinekaan dan iklim keamanan. Sekolah pun dinilai perlu melakukan evaluasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan jika soal-soal tersebut akan menjadi potret kolektif satuan pendidikan. Soal-soal bukan untuk menjustifikasi satu orang yang memberikan jawaban.
 
"Saya jamin tidak ada profiling individu dari AN. Karena ini potret kolektif agar sekolah bercermin sudah aman belum lingkungannya sudah kebhinekaan belum ya," tegasnya.
 
Baca: Legislator Sebut Ada Soal AN Singgung SARA Hingga Kesetaraan Gender
 
Sebelumnya, Anggota Komisi X DPR Illiza Sa'aduddin Djamal menyebut ada soal Asesmen Nasional (AN) dalam situs surveilingkunganbelajar.kemdikbud.go.id mengandung isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) hingga kesetaraan gender. Variabel tersebut dinilai dapat melunturkan karakter bangsa dan tidak mencerminkan spirit Bhinneka Tunggal Ika.
 
"Kami meminta agar variabel tersebut ditarik dan dilakukan koreksi serta evaluasi menyeluruh," kata Illiza melalui keterangan tertulis, Selasa, 27 Juli 2021.
 
Ia menyebut, salah satu pertanyaan yang mengganjal antara lain 'laki-laki lebih perlu meraih pendidikan yang tinggi daripada perempuan'. Ada juga variabel 'saya lebih memilih calon siswa yang memiliki latar belakang suku atau etnis mayoritas'. Lalu, 'guru dari etnis minoritas harus merasa bersyukur jika bisa mengajar di sekolah negeri'
 
Bukan hanya itu, kata dia, ada juga pertanyaan 'perempuan lebih baik berperan sebagai pendukung seperti Wakil atau Sekretaris daripada menjadi Ketua', hingga cara berpakaian sesuai aturan agama kelompok mayoritas seharusnya diwajibkan bagi warga sekolah, dan pertanyaan lainnya.
 
"Dan para guru diharuskan menjawab dengan sangat tidak setuju, tidak setuju, cenderung setuju, dan sangat setuju," terang Illiza.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif