UNBK di salah satu sekolah.  Foto: MI/Arya Manggala
UNBK di salah satu sekolah. Foto: MI/Arya Manggala

Asesmen Pengganti UN Diprediksi Minim Peluang Kecurangan

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan
Intan Yunelia • 16 Desember 2019 17:15
Jakarta: Sistem asesmen kompetensi dan survei karakter yang direncanakan akan menggantikan Ujian Nasional dinilai memiliki peluang yang lebih kecil terhadap terjadinya praktik kecurangan. Model soal asesmen yang variatif, yakni tak hanya pilihan ganda membuatnya kecil kemungkinan setiap siswa memiliki jawaban yang sama.
 
Pengamat Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Said Hamid Hasan mengatakan, meski begitu, tetap saja sistem asesmen kompetensi dan survei karakter ini perlu diawasi. Meski potensi terjadi kecurangan kecil.
 
"Tetap harus kita jaga adalah jangan sampai kecurangan itu sesuatu yang melebar dan banyak. Karena kita tidak bisa mengontrol semua orang. Jadi kita harus berusaha untuk anak tidak berbuat curang," kata Said saat dihubungi Medcom.id, Senin, 16 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jawaban siswa dalam asesmen kompetensi menunjukan kemampuan dia yang sebenarnya. Siswa lebih mengeksplorasi jawaban, dan objektivitas guru menilai jawaban siswa pasti akan berbeda-beda.
 
"Jadi tidak mungkin ada yang sama. Pasti ada cara struktur dan kalimatnya berbeda walaupun makna sama. Itu yang harus kita pakai kalau kita katakan jawabannya tidak benar dan yang benar itu adalah penulis soal sehingga anak itu tidak mengerti apa yang diinginkan oleh penulis soal," ujar Said.
 
Said menambahkan, intinya bagaimana anak mengerti tujuan dari asesmen itu dilaksanakan. Kecurangan itu terjadi karena adanya sistem yang menuntut siswa hanya berorientasi pada hasil akhir.
 
"Apakah itu melalui komputer atau kertas kondisinya sama saja. Komputer jangan dikira tidak bisa diretas," tutur Said.
 
Sebelumnya,Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim resmi menetapkan sistem asesmen baru menggantikan Ujian Nasional (UN). Sistem asesmen ini mulai diterapkan di 2021, sekaligus menegaskan bahwa UN 2020 akan menjadi pelaksanaan UN yang terakhir.
 
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno menyebut, soal yang akan diujikan dalam asesmen pengganti UN tersebut berisi kombinasi dari berbagai variasi model soal. Mulai dari esai hingga pilihan benar atau salah.
 
"Variasi banyak. Kombinasi antara esai, pilihan benar salah, mengurutkan, re-arrange, juga jawaban pendek. Tidak hanya satu jawaban," jelas Totok kepada wartawan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Desember 2019.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif