Gedung Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua ramai dikunjungi masyarakat saat liburan, MI/Bary Fathahilah.
Gedung Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua ramai dikunjungi masyarakat saat liburan, MI/Bary Fathahilah.

Dosen UI: Waspadai Maraknya Hoaks Saat Liburan

Pendidikan Pendidikan Tinggi Pendidikan Vokasi
Antara • 03 Juni 2019 16:24
Depok: Pelaksana Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Vokasi Humas Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati mengimbau masyarakat, agar waspada akan maraknya hoaks atau berita bohong pada saat liburan.
 
"Liburan menjadi salah satu momentum yang tidak terlepas dari terjangkitnya virus sosial, penyebaran hoaks," ujar Devie Rahmawati, Pendiri Klinik Digital Vokasi, dikutip dari Antara, Senin, 3 Juni 2019.
 
Ia mengatakan, berdasarkan studi yang dilakukan oleh Universitas Central Florida Rossen College, media sosial menjadi sumber informasi liburan yang tidak terbatas. Termasuk evaluasi tentang pelayanan hotel, rumah makan, dan tempat-tempat wisata.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Isu dan dampak dari produksi dan penyebaran berita hoaks bahkan mampu menghilangkan nyawa manusia. Berkenaan dengan kegiatan yang berlangsung di bulan Ramadan, dalam sebuah dialog, tim menyampaikan informasi tentang hoaks yang juga membayang-bayangi suasana liburan," katanya.
 
Baca:Ketum PGRI: Masakan Lebaran Ibu Saya Tiada Duanya
 
Devie yang juga Ketua Program Studi Vokasi Humas UI mengungkapkan, satu dari tiga evaluasi tentang fasilitas liburan adalah informasi palsu. Para pemberi tinjuan dengan sengaja memberikan penilaian negatif, agar mendapatkan kompensasi finansial dari komentar yang mereka berikan di media sosial.
 
Karena ketika tulisan yang diberikan kemudian dibaca oleh banyak orang, maka mereka akan
mendapatkan keuntungan ekonomi dari setiap komen atau klik yang diberikan oleh pembaca lain. Selain itu lanjutnya juga ada website dan aplikasi palsu yang mengatakan bahwa mereka menjual barang-barang mewah misalnya, namun dengan harga diskon yang membuat banyak konsumen tergiur.
 
Kenyataannya mereka hanya ingin mengambil data kita termasuk data keuangan seperti kartu kredit. Hal ini terjadi di mana pun, sebagaimana di Eropa tahun 2018 lalu terdapat 5.000 orang menjadi korban penipuan pemesanan daring di saat liburan, dengan nilai kerugian mencapai tujuh jutapoundstreling.
 
"Sebagian besar penipuan (53 persen) adalah pemesanan tiket pesawat," tutup Devie.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif