Penulis, Eka Kurniawan. Foto:  MI/Susanto
Penulis, Eka Kurniawan. Foto: MI/Susanto

Penulis 'Cantik Itu Luka' Tolak Penghargaan dari Kemendikbud

Pendidikan kebudayaan
Rifaldi Putra irianto • 10 Oktober 2019 20:21
Jakarta: Sastrawan Eka Kurniawan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi 2019, mulanya penghargaan itu akan diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepadanya pada Kamis malam ini, 10 Oktober 2019.
 
Dalam keteranganya, ada beberapa alasan yang membuatnya menolak penghargaan tersebut, salah satunya mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memberikan apresiasi bagi pekerja seni dan budaya.
 
Ia menilai penghargan yang akan diterimanya berupa pin dan uang senilai Rp50 juta dipotong pajak tersebut, terlihat kontras dengan hadiah yang diterima para atlet atau olahragawan yang memenangkan olimpiade.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Reaksi saya secara otomatis adalah, “Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?” sebagai informasi, peraih emas memperoleh 1,5 miliar rupiah. Peraih perunggu memperoleh 250 juta. Pertanyaan saya mungkin terdengar iseng, tapi jelas ada latar belakangnya, " kata Eka dalam keteranganya, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.
 
Ia juga menilai, negara telah mangkir dalam memberikan perlindungan pada industri perbukuan. Eka pun mempertanyakan kepedulian pemerintah dengan pekerja seni dan budaya.
 
"Akhir-akhir ini, industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis, menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku. Yang jelas, sudah selayaknya Negara memberi perlindungan, " imbuhnya.
 
Menurutnya, jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah, setidaknya Negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi. Atau paling tidak meyakinkan semua orang yang berada di industri buku agar hak-haknya tidak dirampok.
 
"Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis atas hak mereka yang paling dasar, kehidupan," ucapnya.
 
Dengan kesadaran seperti itulah, beberapa hari lalu akhirnya Penulis novel "Cantik Itu Luka", membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan.
 
Bahwa dirinya memutuskan tidak datang pada tanggal 10 Oktober 2019, serta menolak pemberian Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019. "Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif