Bagi-bagi buku di ruang publik.  Foto:  Kemendikbud/BKLM
Bagi-bagi buku di ruang publik. Foto: Kemendikbud/BKLM

Kesadaran Literasi Jadi Kecakapan Hidup Abad 21

Pendidikan Literasi
Intan Yunelia • 05 November 2019 12:57
Jakarta: Budaya literasi di sebuah negara merupakan salah satu prasyarat kecakapan hidup yang harus dimiliki di abad 21. Hal itu bisa terwujud dengan membangun pendidikan yang terintegrasi, dimulai dari keluarga, sekolah hingga ke masyarakat.
 
“Selama ini masyarakat Indonesia sebagian besar telah mengenal enam jenis literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan,” kata Nadiem dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dadang Sunendar di acara Pencanangan Buku Literasi dan Lokakarya Gerakan Literasi Nasional di Hotel Kartika, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin malam, 4 November 2019.
 
Menurut Nadiem, membaca dan menulis termasuk literasi fungsional dasar yang kegunaannya besar dalam kehidupan sehari-hari. Adapun dalam sejarah peradaban manusia, membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal oleh manusia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan, termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan,” ujar Nadiem.
 
Dengan kemampuan membaca dan menulis, seseorang akan dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik. Tak hanya itu, membaca dan menulis juga sangat berkaitan erat dan berkorelasi dengan kemampuan berbahasa seseorang.
 
“Masukan kata-kata dan gagasan didapat melalui membaca, sedangkan keluarannya disalurkan melalui tulisan,” papar Nadiem.
 
Karenanya, Gerakan Literasi Nasional (GLN) harus dilaksanakan serentak dan dibingkai dalam sebuah gerakan nasional yang terintegrasi, tidak parsial, sendiri-sendiri atau ditentukan oleh kelompok tertentu. Gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat.
 
“Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa,” tuturnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif