Rektor Untar, Agustinus Purna Irawan (ketiga dari kiri) bersama mahasiswanya. Medcom.id/Citra Larasati
Rektor Untar, Agustinus Purna Irawan (ketiga dari kiri) bersama mahasiswanya. Medcom.id/Citra Larasati

Pemuda Diminta Mewaspadai Radikalisme Jenis Baru

Pendidikan Sumpah Pemuda
Citra Larasati • 28 Oktober 2019 18:47
Jakarta: Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini menjadi momentum untuk mengingatkan bangsa Indonesia untuk kembali ke masa 91 tahun lalu, 28 Oktober 1928. Pada tahun itu, pemuda berkumpul, mendeklarasikan sesuatu yang luar biasa untuk membuat Indonesia merdeka.
 
"Pada setiap zaman, pemuda memiliki peran penting untuk membuat Indonesia lebih baik," ujar Rektor Universitas Tarumanagara, Agustinus Purna Irawan, usai upacara bendera Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kampus Untar, Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019.
 
Menurutnya dengan segala fasilitas dan kemudahan pemuda era hari ini memiliki lebih banyak kesempatan untuk memajukan Indonesia. "Waktu pemuda jadi pemimpin yang hebat itu sudah dekat," seru guru besar Fakultas Teknik Untar ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun untuk menjadi pemimpin yang hebat, menurut Agustinus, tidaklah mudah. Siapapun, terutama pemuda harus menghadapi tantangan radikalisme jenis baru, yakni sifat individualistis, pragmatis, dan materialistis.
 
"Tantangan individualistis, salah satunya karena semua orang mau hebat sendirian, di-follow sekian banyak masyarakat.Contoh baik ituGojek, meski itu ide individualistik tapi ia bisa memberi dampak untuk komunitas yang lebih besar.Kesadaran untuk berbagi juga sama pentingnya," kata Agustinus.
 
Jika sampai pemuda terpapar ketiga sifat itu, maka dapat membuat pemuda terkungkung dan itu sama bahayanya dengan terpapar radikalisme. "Ibaratnya punya kemampuan komputer, tapi digunakan untuk nge-hackatau menyebarkan hoaks, itu akibatnya bisa memecah bela bangsa," papar penerima penghargaan Academic Leader 2019 ini.
 
Untuk itu, tantangan zaman yang dihadapi saat ini adalah masalah nilai-nilai kepancasilaan. Nilai ini juga yang menjadi tugas institusi pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi ditantang unuk menanamkan kesadaran adanya kebutuhan riil bahwa persatuan dan kesatuan dan inklusifitas sangat penting.
 
"Kalau di kami (Untar) nilai-nilai ini dikemas lewat berbagai macam pembelajaran. Jadi misalkan ada 50 mata kuliah, maka nilai-nilai itu perlu dimasukkan dalam pembelajaran selain tentu saja nilai entrepreneur yang menjadi kekhasan kampus kami," tutup Agustinus.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif