Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Cegah Cancel Culture, Ini 3 Tips Bijak Menggunakan Medsos

Renatha Swasty • 17 Februari 2022 13:30
Jakarta: Cancel Culture ialah bentuk boikot masyarakat kepada pribadi yang berperilaku ofensif dan tidak menyenangkan di dunia maya. Cancel culture menyebabkan banyak pengguna akhirnya terkucilkan dan mungkin menimbulkan dampak lebih besar bagi kehidupannya.
 
Pakar komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Nisa Kurnia Illahiati, menyebut pemboikotan dapat timbul akibat penyebaran hal-hal yang tidak sepenuhnya benar di media sosial. Akhirnya, merugikan pihak yang diboikot.
 
“Sehingga saat melakukan cancel, kita sebenarnya melanggar hak seseorang untuk hidup dan berbicara,” kata Nisa dikutip dari laman unair.ac.id, Kamis, 17 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nisa memberikan beberapa tips bijak menggunakan media sosial untuk menghindari cancel culture yang salah sasaran. Pertama, memahami pola pikir merupakan hal yang menggerakan teknologi.
 
“Sebelum kita mau melakukan sesuatu, kita harus membenahi pola pikir dan memahami proses logika itu bekerja, karena teknologi hanyalah instrumen,” kata Nisa.
 
Selanjutnya, Nisa menyebut pentingnya pemahaman pengguna untuk tiap media yang akan digunakan. “Medium is the message. Hal yang harus kita ingat, bahwa setiap media memiliki karakteristik dan efek yang berbeda, misalnya judul dan lead berita daring yang dibuat menarik, untuk memikat perhatian warganet untuk meng-klik berita,” kata Nisa.
 
Dia menyebut dengan mengetahui karakteristik dan efek yang ditimbulkan, pengguna media sosial diharapkan menjadi lebih mawas. Sehingga, terhindar dari jebakan media.
 
Terakhir, dosen komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu menyarankan netizen menganalisa sebuah narasi tercipta. “Seringkali orang-orang berani menghakimi orang secara keseluruhan hanya dari story yang hanya belasan detik. Padahal, bagaimana belasan detik dapat merepresentasikan seluruh hal yang terjadi?” kata dia.
 
Nisa meneybut peran netizen sebagai hakim dalam konteks cancel culture dapat menjadikan mereka buta akan realitas yang sebenarnya dapat dicari. Sedangkan, kebebasan berbicara merupakan hak asasi manusia yang dimiliki semua manusia, baik bagi pihak netizen sebagai hakim maupun pelaku.
 
“Merupakan hal yang salah bila membatasi pelaku dalam memberikan hak jawab,” kata dia.
 
Nisa berpesan sebelum melakukan penghukuman maupun penghakiman ada baiknya netizen mengonfirmasi kebenaran yang ada. Dia mengingatkan cancel culture akhirnya hanya menjadi main hakim sendiri.
 
"Kalau netizen hanya melakukan apa yang baik di mata mereka, tanpa melihat perspektif lain dan tanpa mengonfirmasi kebenaran yang sebenarnya ada,” kata Nisa.
 
Baca: Johnny Depp Klaim Terkena Cancel Culture, Apa Alasannya?
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif