Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, Kemenristekdikti/SDID.
Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, Kemenristekdikti/SDID.

Ali Ghufron Raih Penghargaan "Pejuang Kesehatan"

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 30 Juni 2019 15:06
Jakarta: Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti dinobatkan menjadi salah satu pejuang kesehatan dalam acara Health Warrior Awards 2019.
 
Ajang penghargaan yang digelar di Fakultas Kedokteran Trisakti ini merupakan bentuk apresiasi dari Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) bersama PTTEP dan Dompet Dhuafa bagi sejumlah tokoh yang telah memberikan kontribusi nyata terhadap dunia kesehatan Tanah Air."Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dipercaya untuk mendapatkan penghargaan sebagai pejuang kesehatan atau health warrior. Terimakasih atas apresiasi ini," sebut Dirjen Ghufron, di Jakarta, Minggu, 30 Juni 2019.
 
Pada kesempatan itu, beberapa tokoh juga dinobatkan sebagai pejuang kesehatan. Di antaranya adalah artis senior Titiek Puspa, Lula Kamal, Prof. Yati Sunarto, Bupati Jember Dr. Hj. Faida, dan berbagai tokoh dari generasi muda. Penilaian para pemenang sendiri dilakukan atas dasar dampak, komitmen, prestasi, keberlanjutan program, dan penggerak dalam dunia kesehatan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagai Mantan Wakil Menteri Kesehatan yang kini diberi amanah untuk membangun pendidikan tinggi, Dirjen Ghufron memberikan perhatian khusus pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di sektor kesehatan. Hal ini diwujudkan melalui terbentuknya Komite Bersama antara Kemenristekdikti dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
 
Baca:Dirjen SDID Raih Penghargaan Adi Karsa Madya
 
Adapun salah satu program yang dihasilkan, yakni Academic Health System (AHS) yang menyinergikan antara unsur edukasi, penelitian, dan pengabdian masyarakat. "Ruang lingkup AHS mencakup pengembangan kurikulum di perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan sebagai lokasi pendidikan profesi memastikan kesiapan tenaga kesehatan, serta sistem yang kontinyu dan berkelanjutan untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang optimal," tutur Ghufron.
 
Sebelumnya, guru besar Fakultas Kedokteran UGM ini juga memiliki andil besar dalam pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Kala itu, Ghufron berperan sebagai ketua pokja persiapan BPJS yang kini menjadi andalan masyarakat untuk memperoleh layanan dan fasilitas kesehatan yang terjangkau.
 
Hal ini tak terlepas dari keahliannya di bidang jaminan kesehatan. "Konsep kebijakan mengenai jaminan kesehatan ini juga sudah saya sampaikan ke berbagai perguruan tinggi luar negeri, seperti di Harvard Medical School, University of Nottingham, Coventry University ketika saya diundang untuk memberikan kuliah umum," sebutnya.
 
Berkat dedikasinya itu pula, Dirjen Ghufron mendapat gelar kehormatan Honoris Causa (HC) bidang kesehatan dari Coventry University, Inggris, di 2017. Ia menuturkan, apa yang sudah dilakukannya selama ini tak semata-mata hanya untuk mengejar prestasi dan pengakuan internasional.
 
Baginya, yang terpenting adalah memperjuangan sistem jaminan kesehatan yang murah, terutama untuk masyarakat yang kurang sejahtera. "Menurut saya, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi adalah kunci mewujudkan kesejahteraan. Dahulu saya bercita-cita menjadi seorang dokter agar bisa menolong orang lain, apalagi saat itu biaya pengobatan mahal. Setelah saya berhasil menjadi dokter dan melanjutkan studi S-2 hingga S-3, saya ingin membangun sistem jaminan kesehatan masyarakat,” kenang kelahiran Blitar, 17 Mei 1962 ini.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif