Profesor Bisa Berkolaborasi dengan Mahasiswa Mempublikasi Jurnal Ilmiah

Husen Miftahudin 01 Maret 2018 12:46 WIB
penelitian
Profesor Bisa Berkolaborasi dengan Mahasiswa Mempublikasi Jurnal Ilmiah
Menristekdikti Mohamad Nasir. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A).
Jakarta: Sebagian besar profesor dan guru besar yang belum melakukan publikasi jurnal ilmiah bereputasi internasional dianggap kurang perhatian terhadap kewajiban. Hal ini yang menjadi alasan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berencana menghentikan tunjangan profesor.

"Yang saya perhatikan ada dua masalah paling dominan, yakni kurang peduli terhadap apa yang harus mereka lakukan dan kurang perhatian terhadap kewajiban," kata Menristekdikti Mohamad Nasir seperti dinukil dari Antara, Jakarta, Selasa, 27 Februari 2018.


Kemudian, lanjut dia, acapkali profesor juga tidak bisa memahami media. Menurutnya, menulis jurnal ilmiah tidak harus menjadi penulis pertama, namun bisa menjadi penulis kedua bersama mahasiswa.

"Mahasiswa ada tugas tesis, skripsi, dan disertasi. Kalau itu dipublikasikan bisa menghasilkan satu jurnal publikasi," tambah dia.

(Baca juga: Penghentian Tunjangan Profesor Akhir 2019)

Kemenristekdikti melakukan revisi mengenai Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Dalam Permenristekdikti 20/2017 disebutkan tunjangan kehormatan profesor akan diberikan jika paling sedikit memiliki satu jurnal internasional bereputasi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Jika tak memenuhi persyaratan, tunjangan profesor akan dihentikan sementara. Seharusnya evaluasi dilakukan dalam kurun waktu 2015 hingga 2017, namun kemudian ditunda hingga November 2019.

Berdasarkan aplikasi Science and Technology Index (SINTA) Ristekdikti selama tiga tahun terakhir, per akhir 2017 baru ada 1.551 orang profesor yang publikasinya memenuhi syarat sesuai dengan Permenristekdikti 20/2017.

Padahal, jumlah profesor yang sudah mendaftar pada aplikasi SINTA sebanyak 4.200 orang. Sedangkan untuk lektor kepala, dari 17.133 orang yang mendaftar SINTA, hanya 2.517 orang yang lolos memenuhi syarat publikasi.

"Sekarang ini kami akan evaluasi, karena dalam tahap evaluasi inilah nanti kebijakan berikutnya akan lakukan segera untuk memperbaiki apa saja hambatannya, sehingga nantinya semua profesor wajib publikasi," kata dia.



(HUS)