Head of SDO Gusman Yahya (kiri) saat menjelaskan tentang SDO untuk peningkatan kompetensi guru di Indonesia. (Foto: Medcom.id).
Head of SDO Gusman Yahya (kiri) saat menjelaskan tentang SDO untuk peningkatan kompetensi guru di Indonesia. (Foto: Medcom.id).

SDO, Jalan Menuju Pendidikan Berkualitas

Husen Miftahudin • 20 Februari 2018 12:43
Jakarta: Sampoerna University (SU) bertekad untuk meningkatkan kompetensi guru di Indonesia. Lewat program School Development Outreach (SDO), kompetensi guru ditempa agar pembelajaran di dalam kelas menjadi lebih efektif sehingga menghasilkan siswa berprestasi.
 
Apa itu School Development Outreach (SDO)? Medcom.id mewawancarai Head of SDO Gusman Yahya yang mengulas tentang peningkatan kompetensi guru demi pengembangan kualitas pendidikan di Indonesia. Berikut ulasannya.
 
 
Medcom.id (M): Apa itu School Development Outreach (SDO)?
 
Gusman Yahya (G): School Development Outreach (SDO) adalah salah satu unit yang ada di dalam Sampoerna University (SU) untuk meningkatkan pelayanan pengembangan pendidikan sebenarnya. SDO sebelumnya berada di bawah naungan Putera Sampoerna Foundation, tujuan utamanya membantu mengembangkan kualitas sekolah yang ada di Indonesia. Di saat bersamaan kita juga melayani pengembangan profesionalisme guru yang ada di Indonesia.
 
Di SU ada fakultas pendidikan, bedanya, di Fakultas Pendidikan SU menciptakan guru sedangkan kita mencoba meningkatkan kompetensi guru supaya proses pembelajaran mereka di dalam kelas menjadi lebih efektif sehingga menghasilkan student outcome yang lebih baik dan lebih berperforma. Jadi peningkatan kompetensi guru yang jadi fokus SDO.
 
M: Untuk pengembangan pengajar di Indonesia, apakah SDO bekerja sama dengan pemerintah atau organisasi lain yang berkaitan dengan pendidikan?
 
G: Sebagai education service provider, SDO itu bekerja sama dengan mitra. Jadi yang kami lakukan adalah meng-encourage semua pihak untuk mendukung pendidikan yang ada di Indonesia. Specifically kalau melihat mayoritas permasalahan yang ada di Indonesia, itu terdapat permasalahan guru dan juga permasalahan sekolah. Dari dua ini, kita lihat pemerintah butuh dukungan dan butuh bantuan karena permasalahan pendidikan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah itu sendiri, butuh stakeholder dan masyarakat untuk bisa berperan aktif.
 
Sebagai SDO, kami mempromosikan public private partnership (PPP) yaitu kemitraan antara sekolah dengan pemerintah daerah ataupun dengan pihak-pihak swasta, perusahaan suatu daerah yang peduli terhadap perbaikan kualitas pendidikan di daerahnya masing-masing. Nah itu yang kami sebut sebagai kemitraan public sama private dimana semua stakeholder yang terkait langsung dapat berkontribusi, baik berperan secara aktif atau berperan secara tidak aktif.
 
Program yang kita punya di SDO itu dispesifikkan untuk pengembangan sekolah dan profesional guru, dua program inilah yang kami coba tawarkan ke pihak swasta ataupun pihak pemerintah. Kami sudah berpengalaman selama 12 tahun, karena kita lihat pendidikan itu sangat dinamis, makin lama makin maju. Kita harus bisa catch out.
 
Kenapa kita berada di SU? Karena kita berada bersama dengan tim riset yang ada di Fakultas Pendidikan SU. Fakultas-fakultas yang ada di sana semuanya mumpuni dan mampu menciptakan solusi-solusi yang baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dari solusi-solusi itu kita coba terapkan dan kita evaluasi, harapannya kami, itu bisa meningkatkan kualitas sekolah ataupun gurunya masing-masing.
 
M: SDO ini sudah menyasar daerah mana saja?

G: Kami sudah reach hampir 49 kabupaten di 27 provinsi. Program yang telah kami lakukan itu sudah hampir reach sekitar 70 ribu guru baik langsung ataupun tidak langsung, kemudian sudah sekitar 750 sekolah dari berbagai macam program yang sudah kami lakukan selama 12 tahun. Mayoritas sekolah tersebut sekolah negeri karena memang saat ini butuh bantuan dan mayoritas sekolah yang ada di Indonesia adalah sekolah negeri. Nah itu yang kami lakukan, tapi tentunya itu tergantung mitra karena mereka punya permintaan spesifik terhadap kriteria yang mereka mau bantu. Kita mencoba membantu dengan solusi selama itu bsia kita lakukan.
 
M: Apakah SDO juga menyasar daerah timur di Indonesia?
 
G: Sudah, kita sudah masuk ke Papua Barat, namanya Tanah Merah Baru yang itu ada di Kabupaten Teluk Bintuni, itu kita ke sana harus pake sepatu boots. Jadi ada SMP di sana butuh bantuan, bantuan itu tidak berupa fisik, tapi bantuan bagaimana mengelola kualitas gurunya dan segala macem.
 
Kami menjalankan program selama 3,5 tahun di sana untuk meningkatkan kualitas mereka, yang tadinya gurunya tidak pernah hadir, murid juga tidak pernah hadir itu kita tingkatkan pengelolaan sekolah yang baik dan benar dan kita kirim fasilitator, konsultan untuk melakukan coaching mentoring. Kita juga melakukan workshop, melakukan kegiatan ekstrakurikuler bersama, kita galang masyarakat bersama di sana supaya bisa mendukung pendidikan.
 
Itu kami lakukan selama 3,5 tahun dan per tahun kita evaluasi peningkatannya bagaimana, yang palig penting memotivasi mereka. Di saat mereka melihat, 'oh kami diperhatikan di sini', mereka mau belajar. Kita juga undang beberapa guru dari luar untuk stay di sana selama 3 tahun.
 
M: Selama SDO bekerja di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, sudah sejauh mana perkembangan sekolah tersebut?
 
G: Kami sudah selesai dan kami sudah handover bahwa sekolah itu sudah masuk ke kategori akreditasi B dari tidak terakreditasi. Untuk suatu daerah yang sulit terhadap akses itu mendapat akreditasi B sudah cukup bagus menurut kami. Tapi yang lebih penting itu adalah motivasi belajar dari siswa itu terjadi.
 
Tentunya program pendidikan itu kan tidak jauh dari student outcome, mau akreditasi A, B maupun C, if you cannot create battle student outcomes, its not enough. Orientasi kami seperti itu, memotivasi mereka supaya tata kelola sekolah, kepala sekolahnya bisa me-manage sekolah yang efektif, menjadi seorang pemimpin, memotivasi guru. Pelan-pelan akhirnya mereka sudah bisa berjalan dengan sendirinya dan berprestasi anak-anaknya di kawasan Teluk Bintuni. Di pedalaman seperti itu sudah cukup hebat untuk mereka, sudah bisa bersaing dengan yang ada di ibu kota kabupaten itu sendiri.
 
M: Menurut Anda, kondisi sistem pendidikan di Indonesia saat ini seperti apa?
 
G: Saya tertarik dengan pendekatan yang dilakukan oleh Fakultas Pendidikan SU dengan menggunakan Science, Technology, Engineering, Art and Math (STEAM) dan english. Saya menceritakan tentang flagship program kami yang namanya Lighthouse School Program (LSP) yaitu pendekatan holistik atau homeschool approach untuk mengembangkan kualitas pendidikan dan kualitas sekolah itu sendiri.
 
LSP itu menjadikan suatu sekolah biasa menjadi satu sekolah unggul dan model bagi sekitarnya. Jadi kita anggap, lighthouse itu mercusuar seperti tower yang bisa menerangai sekitarnya. Purpose dari LSP adalah satu, dia harus menjadi sekolah yang unggul, jadi model, dan berimbas pada sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Sustainability program ini melihat bagaimana sekolah tersebut jadi acuan bagi sekolah di sekitarnya, guru-gurunya bisa belajar ke sekolah tersebut sehingga dia dengan satu programnya bisa berimbas ke banyak sekolah di sekitarnya.
 
Soal homeschool approach itu adalah pendekatan holistik dimana guru tidak akan bisa mengajar efektif tanpa didukung environment yang tepat. Environment yang tepat itu guru kalau mau bekerja secara efektif harus didukung sama kepala sekolah. Artinya kepala sekolah juga harus dikembangkan dan mendukung proses pembelajaran. Siswa diarahkan ke hal-hal yang berprestasi, jadi tidak cuma kita mengajar saja tapi juga bagaimana memfokuskan siswa itu untuk bisa berprestasi.
 
Yang penting juga adalah bagaimana orangtua berperan aktif, karena sebagian besar jam anak-anak itu dipegang oleh orangtua untuk mendidik anak. Orangtua itu penting, jadi kalau orangtua tidak berperan aktif, maka sistem homeschool itu tidak akan efektif. Ada komponen-komponen kita bekerja secara holistik yakni learning experience baik yang best practice maupun society, dari pengalaman di negeri sendiri, dari luar negeri bagaimana menciptakan benchmark supaya bisa maju dengan konteks lokalnya mereka sendiri. Itu yang kami lakukan di LSP.
 
Karena itu pendekatan STEAM dan english itu menjadi suatu keharusan di program tersebut untuk mengembangkan Bahasa Inggris mereka. Kemampuan Bahasa Inggris mereka itu kita bisa bersaing bukan cuma di tingkat nasional atau regional, tapi kita bersaing secara internasional. Jadi if you cannot speak english, kamu tidak akan bisa bersaing.
 
LSP itu untuk SD, SMP, SMA. Yang kita lihat adalah dengan STEAM itu kita bisa increase atau baggaimana mereka bisa berpikir dengan pendekatan STEAM itu. Pendekatan scientific, mereka bisa bikin project base learning, bisa bikin problem base learning, dan pembelajaran yang efektif. Berbicara 21 century learning, itu tidak jauh dari sana. Kalau di daerah belum tentu mendapatkan akses terhadap hal-hal tersebut, nah tugas kami beserta mitra itu adalah me-reach equality bagi mereka agar mereka punya kesempatan yang sama dengan sekolah yang ada di kota.
 
Kita tidak berada di pusat kota, kita berada di provinsi, kabupaten. Kalau pun kita harus ke daerah remote, kita harus masuk ke sana dengan formula yang tentu berbeda. Kami menekankan satu sekolah bisa jadi model untuk memotivasi sekolah-sekolah lain. Selama 12 tahun pengalaman, kami menguatkan pembelajaran yang kontinyu.
 
We have to catch up, kalau tidak catch up kita bakal ketinggalan. Maka itu kita harus catch up, itu pun masih ketinggalan, tapi we'll try our the best. Itu sebenarnya yang kita coba tanamkan pada kemampuan mereka untuk mengembangkan diri mereka sendiri bagaimana mengembangkan mereka mau belajar sendiri, mereka termotivasi, dan mereka peduli akan anak siswanya. Nah program seperti itu yang sebenarnya perlu kami share dengan mitra-mitra yang lain atau pemerintah daerah bahwa ini adalah salah satu solusi untuk mengembangkan pendidikkan di daerah.
 
M: Berbicara soal SDO dan juga pendidikan, apa usaha SU untuk membuat lulusan yang bisa berkontribusi pada pemerintah?
 
G: Ada satu yang saya tekankan, yaitu sinergi antara bagaimana SDO beroperasi dengan faculty of education SU beroperasi. Kami yang berada di lapangan itu melihat semua hal yang di depan kami itu adalah konkret, fakta, data. Kami selalu mengundang dan kami selalu bekerja sama dengan faculty of education untuk mengajak muridnya melihat fakta yang ada di lapangan. Dosen-dosennya yang ada di faculty of education di SU itu adalah researcher atau praktisi yang mau berbagi pengalamannya ke dalam program kita. Jadi mereka adalah guru-guru yang mengajar di faculty of education SU itu kami kirim ke sana, di saat mereka mengajar dia juga akan bisa melihat realita yang ada di Indonesia, seperti apa pendidikannya sehingga dia bisa kembali untuk melakukan penelitian dan juga bagaimana supaya mencari approach yang paling baik bagi kondisi pendidikan yang ada di Indonesia untuk saat ini.
 
Jadi itu satu sinergi cukup solid. Kami butuh informasi, kami butuh best practises dan kami akan memberikan learning experience kepada sekolah-sekolah negeri itu darimana. Pembelajaran Amerika yang ada di sana (American college) bisa kita adopsi agar bagaimana bisa mengimplementasikan di daerah, bagaimana bisa diimplementasikan di sekolah negeri sehingga mereka juga terbuka wawasannya bahwa ada kurikulum 2013 yang mereka jalankan, tapi bukan berarti mereka tidak boleh memperkaya wawasan mereka. Karena memperkaya wawasan mereka akan membuat menjalankan kurikulum 2013 lebih gampang lagi.
 
Itu yang saya tekankan bahwa di SDO itu sangat dekat dengan Fakultas Pendidikan SU, karena memang kami berjuang di pendidikan, ada sektornya masing-masing. Kami berjuang untuk membantu apa best practises yang kami punya di SU untuk kami bagikan kepada stakeholder lain yang ada di Indonesia, masyarakat pendidikan yang ada di Indonesia. Dan di saat yang bersamaan, kami juga belajar dari faculty of education tentang ilmu baru dan faculty of education bisa mengumpulkan informasi, data, pengalaman, pengabdian masyarakat, mereka. Mereka bisa ikut ke progam kami bagaimana bisa berkontribusi untuk melihat bagaimana kami mengajar, melihat kondisi sekolah. Itu yang kami lihat sebagai suatu sinergi yang apik menurut saya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HUS)




TERKAIT

BERITA LAINNYA