Kepala Balitbang, Kemendikbud, Totok Suprayitno. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Kepala Balitbang, Kemendikbud, Totok Suprayitno. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Pengganti UN Tak Ada Soal Hafalan

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 11 Desember 2019 16:18
Jakarta: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan pengganti Ujian Nasional (UN) tidak akan menggunakan soal-soal yang bersifat hafalan. Totok memastikan soal di asesmen baru tersebut mengedepankan penalaran.
 
"UN yang sekarang mungkin dominan ke arah konten, misalnya ujian sejarah itu ingat tahun, nama pahlawan dan sebagainya, kalau matematika bagaimana mengingat rumus dan penerapannya. Nanti akan digantidengan sistem penilaian yang mengedepankan penalaran," ujar Totok dalam Diskusi Pendidikan di Jakarta, Selasa, 11 Desember 2019.
 
Sementara itu kompetensi yang dibutuhkan pada masa depan adalah kompetensi yang mengedepankan penalaran. Untuk bentuk sistem penilaiannya sendiri bisa pilihan ganda atau esai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami belum tahu bentuknya seperti apa, belum sampai ke arah situ. Masih dalam tahap pembahasan," kata dia.
 
Meski demikian, Totok menegaskan bahwa untuk 2020, UN tetap diselenggarakan. Penggantian sistem penilaian tersebut dilakukan setelah UN 2020.
 
Pada sistem penilaian yang baru tersebut, soal yang ada akan beragam. Ada yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, dan ada juga yang mudah. "Kalau dalam teori penilaian, kesulitan selalu ada. Ada yang mudah dan ada yang sulit," kata Totok yang juga Plt. Dirjen Dikdasmen Kemendikbud tersebut.
 
Tujuannya untuk menangkap kemampuan siswa yang beragam. Hal tersebut tidak
bisa tercapai jika soal yang diberikan semuanya mudah atau semuanya sulit.
 
Sebelumnya, Kemendikbud telah menambah jumlah soal yang membutuhkan penalaran tinggi dalam soal UN beberapa tahun terakhir. Namun Totok mengaku hal itu tidak efektif, karena daya pikir tingkat tinggi harus dilakukan dengan mengubah budaya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif