Inovasi becak listrik yang diproduksi UGM. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Inovasi becak listrik yang diproduksi UGM. Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Becak Listrik Inovasi UGM Pertahankan Kekhasan Yogyakarta

Pendidikan inovasi
Ahmad Mustaqim • 24 Desember 2018 17:50
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memperkenalkan inovasi becak listrik kepada publik. Sekali pengisian daya, becak listrik ini bisa menempuh jarak hingga lebih dari 30 kilometer.
 
Kepala Pusat Inovasi Otomotif UGM, Jayan Sentanuhady mengatakan, proses pembuatan becak listrik dilakukan sejak 2016 lalu. Proses riset dilakukan dengan pembiayaan mandiri. Ia menyebut, bacak listrik tersebut sudah generasi keenam.
 
"Ide awalnya dulu karena kita kasihan tukang becak (kayuh) karena mulai banyak becak motor. Ke depan kita tidak berhenti di sini, kita akan mengembangkan. Prinsipnya motor listrik akan memberi bantuan kalau kita mengayuh selama tidak dikayuh ya nggak berfungsi," kata Jayan di sela peluncuran di halaman Kantor Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Becak listrik tersebut memakai motor listrik berkekuatan 48 volt dan 1500 watt. Untuk mesin accu memiliki spesifikasi 48 V 12 AHa. Menurut Jayan, dengan 12 AHa itu sudah bisa sekitar dipakai menempuh jarak sekitar 30-35 kilometer untuk sekali charging.
 
"Dalam hitungan kami sudah cukup untuk dipakai satu hari dengan beban waktu kita coba memakai beban dua orang satu orang," katanya.
 
Ia mengatakan, pembuatan becak listrik itu diupayakan lebih mudah dalam pengisian daya. Sebab, pengisian daya bisa dilakukan dengan meletakkan becak tersebut tersambung dengan setop kontak.
 
Menurut dia, pengisian daya bisa penuh dalam waktu tiga hingga empat jam. Dengan lama pengisian daya dan ditumpangi dua penumpang, becak listrik itu bisa menempuh jarak hingga 35 kilometer. "Kalau hanya satu orang jaraknya bisa lebih jauh," ungkapnya.
 
Ia memperkirakan biaya pembuatan becak listrik sekitar delapan hingga sembilan juta. Apabila diproduksi dalam jumlah besar, semisal 100 hingga 1.00 unit, akan dapat menekan ongkos produksi.
 
Baca:Mobil Listrik Blits Sudah Tempuh Perjalanan 3.584 Kilometer
 
Namun, ia melanjutkan, ada salah satu masalah, yakni keberadaan sebagian besar becak yang telah dimodifikasi dengan mesin bermotor. Menurut dia, becak seperti itu tak bisa dikonversi menjadi mesin listrik.
 
"Yang bisa kita lakukan itu becak original. Kesulitannya ya karena kami nggak mau mengubah bentuk becak itu masalah paling besar. Karena kan kalau becaknya kita ubah bisa lebih andal, hanya saja nanti value becaknya hilang. Kami mau mempertahankan bentuk becaknya itu seperti itulah ciri khas Yogyakarta," tuturnya.
 
Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Fahmy Radhi mengatakan, keberadaan becak listrik bisa jadi jalan meningkatkan jasa layanan. Ia mengungkapkan, pembuatan becak listrik saat ini didukung sejumlah BUMN, seperti Pertamina dan PLN.
 
"Dengan inovasi tenaga penggerak ini diharapkan bisa meringankan beban tukang becak. Selama ini pemanfaatan tenaga manusia sebagian dianggap tak manusiawi di era sekarang," ujarnya.
 
Pihaknya berkeinginan becak listrik bisa diproduksi massal dalam jumlah besar. Selain membantu tukang becak, becak listrik juga bisa mengurangi efek gas rumah kaca.
 
Ia menyebut Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM tengah mengkoordinasi program pemberdayaan tukang becak dalam hal pelayanan. Mulai dari hal pemberian pengetahuan teknis, pemasaran, penguatan sumber daya manusia, pariwisata hingga kelembagaan.
 
"Sehingga diharapkan bisa membantu meningkatkan pendapatan tukang becak," ujarnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi