Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kanan) berjalan bersama Kapolres Pontianak Kombes Pol Anwar Nasir, di Mapolresta Pontianak, ANT/Jessica Helena Wuysang.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kanan) berjalan bersama Kapolres Pontianak Kombes Pol Anwar Nasir, di Mapolresta Pontianak, ANT/Jessica Helena Wuysang.

Mendikbud Luruskan Fakta Penganiayaan yang Viral di Medsos

Pendidikan kekerasan anak kekerasan
Antara • 11 April 2019 20:26
Pontianak: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyayangkan, kasus dugaan penganiayaan terhadap pelajar SMP di Pontianak, kenyataannya tidak seperti yang viral di media sosial.
 
"Kasus ini sangat disayangkan, dan tidak seperti yang viral di medsos setelah saya mendapat informasi langsung dari Kapolresta Pontianak, Kompol Muhammad Anwar Nasir," kata Muhadjir Effendy di Pontianak, Kamis, 11 April 2019.
 
Ia menjelaskan, isu yang viral di medsos bahwa korban dikeroyok oleh 12 pelaku juga tidak benar. Termasuk, kata Muhadjir, merusak area sensitif korban juga tidak benar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Maaf nalar sehat mestinya korban bisa meninggal kalau isu tersebut benar," ucapnya.
 
Menurut dia, kasus dugaan penganiayaan tersebut, ibarat emperannya lebih besar dari rumah sendiri. Ia mencontohkan terkait auratnya (korban) juga tidak benar, padahal itu yang membuat
mengerikan.
 
Muhadjirjuga mengajak, kepada para kepala sekolah agar tidak membiarkan berita beredar secara liar, sehingga merusak citra sekolah. Apalagi sudah viral di dunia, sehingga luar biasa dampaknya.
 
Ia menambahkan, untuk kejadian seperti ini, para kepala sekolah masih harus bertanggung jawab. "Mohon kerja sama kepala sekolah untuk meredam masalah ini, dan memberikan informasi yang benar, baik pada media maupun melalui medsos," ujarnya.
 
Baca:Guru Dituntut Lebih Sigap Antisipasi Kasus Perundungan
 
Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini berharap, semua pihak mengurangi dampak negatif media sosial pada anak-anak, dan kasus Au adalah kejadian pertama dan terakhir di Kota Pontianak.
 
Sementara itu, Polresta Pontianak, Rabu malam, 10 April 2019 telah menetapkan tiga tersangka masing-masing berinisial FA atau Ll, TP atau Ar dan NN atau Ec (siswa SMA) dugaan kasus penganiayaan seorang pelajar SMP Au di Kota Pontianak. "Dari hasil pemeriksaan, akhirnya
kami menetapkan tiga orang sebagai tersangka, sementara lainnya sebagai saksi," kata Kapolresta Pontianak, Kombes (Pol) Muhammad Anwar Nasir.
 
Penetapan tersebut, dari hasil pemeriksaan yang ketiganya mengakui penganiayaan, tetapi tidak melakukan pengeroyokan dan merusak area sensitif seperti informasi yang beredar di media sosial. "Terhadap ketiga tersangka dikenakan pasal 80 ayat (1) UU No. 35/2014 tentang perubahan UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara, atau kategori penganiayaan ringan sesuai dengan hasil visum oleh pihak Rumah Sakit Mitra Medika," ungkapnya.
 
Baca:Ibu-ibu Sarankan Pelaku Dijatuhi Sanksi Kerja Sosial
 
Sesuai dengan UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, maka dilakukan diversi
(pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana). Ia menambahkan, fakta hingga ditetapkan sebagai tersangka, yakni tersangka menjambak rambut korban, mendorong hingga jatuh, lalu ada tersangka yang memiting, dan ada tersangka yang melempar menggunakan sandal.
 
Kepala Bidang Dokkes Polda Kalbar, Kombes (Pol) dr Sucipto mengatakan, dari hasil pemeriksaan dokter, hasilnya tidak seperti yang diberitakan di media sosial yang menyatakan pada area sensitifnya dianiaya. "Intinya masih utuh, tidak ada robekan atau luka, dan tidak ada trauma fisik pada area sensitif tersebut," ujarnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif