Suasana uji coba PTM Terbatas di Penajam, Passer Utara, Kaltim. Foto: Medcom.ia/Arga Sumantri
Suasana uji coba PTM Terbatas di Penajam, Passer Utara, Kaltim. Foto: Medcom.ia/Arga Sumantri

Sekolah Bebas Memiih Kurikulum Saat PTM Terbatas

Pendidikan Virus Korona Sekolah Pembelajaran Daring Kurikulum Pendidikan Pembelajaran Tatap Muka
Citra Larasati • 17 Juni 2021 22:20
Jakarta:  Satuan pendidikan dapat memilih penggunaan kurikulum yang tersedia saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.  Baik kurikulum 2013 maupun kurikulum mandiri yang dikembangkan sekolah, atau kurikulum kondisi khusus yang dikembangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
 
Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Sesditjen GTK), Kemendikbudristek Nunuk Suryani juga meminta agar warga sekolah benar-benar memahami Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dasmen) di Masa Pandemi Covid-19.  Panduan tersebut telah diterbitkan oleh Kemendikbudristek bersama Kementerian Agama.
 
"Jadi, jelas bahwa ukuran keberhasilannya adalah tingkat kepatuhan protokol kesehatan di kelas, tingkat pelibatan orang tua pada pembelajaran, dan juga pelibatan peserta didik dalam pembelajaran,” terang Nunuk dalam keterangan tertulis, Kamis, 17 Juni 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, Nunuk menjelaskan bahwa panduan juga memuat contoh-contoh praktik baik bagaimana membuat rancangan pembelajaran dalam PTM terbatas. “Saya sangat berharap guru-guru membacanya secara mendalam. Selain itu, kami juga menyediakan seri webinar selama satu bulan penuh dalam rangka persiapan PTM terbatas dari berbagai perspektif pembahasan,” katanya.
 
Baca juga:  PTM Segera Dimulai, Guru Patut Persiapkan Hal ini
 
Nunuk meminta penyelenggaraan PTM Terbatas berfokus pada hal esensial.  Ia menekankan bahwa tidak ada tekanan bagi guru dalam menuntaskan kurikulum. Karena PTM terbatas dilaksanakan di tengah kondisi khusus pandemi. 
 
"Prioritas dari satuan pendidikan bukan untuk menuntaskan kurikulum, tetapi memastikan bahwa setiap peserta didik mengalami proses pembelajaran," ujar Nunuk.
 
Dilanjutkan Nunuk, guru, pengawas sekolah, dan kepala sekolah perlu mengontekstualisasikan panduan sesuai kondisi dan kebutuhan di daerah masing-masing. “Karena fokus dari kurikulum pada masa pandemi adalah mempelajari hal-hal yang esensial serta tidak mengejar ketuntasan peserta didik, tetapi mengacu pada kebutuhan peserta didik dan menjadikan protokol kesehatan sebagai syarat utama,” jelasnya.  

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif