Wapres Kalla Minta PT Berkontribusi pada Pengembangan Teknologi

Husen Miftahudin 13 Maret 2018 15:07 WIB
pendidikan
Wapres Kalla Minta PT Berkontribusi pada Pengembangan Teknologi
Wapres Jusuf Kalla (kedua kanan) didampingi istri Mufidah Jusuf Kalla (kedua kiri) dalam acara sidang senat terbuka Dies Natalis ke-42 di Kampus UNS, Solo, Jawa Tengah, Senin (12/3). (Foto: Antara/Mohammad Ayudha).
Solo: Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta perguruan tinggi berkontribusi pada pengembangan teknologi. Sebab untuk menjawab tantangan di masa depan, bangsa harus memiliki banyak dimensi.

"(Tantangan) untuk kehidupan sehari-hari seperti pangan, energi, jumlah penduduk, dan lapangan kerja," ungkap Kalla pada acara Dies Natalis ke-42 UNS seperti dilansir dari Antara, Solo, Senin, 12 Maret 2018.


Saat ini jumlah penduduk Indonesia sekitar 290 juta jiwa dan diperkirakan bakal meningkat hingga 3.990 juta jiwa pada 2045. Menjawab tantangan itu, menurut Kalla, negara harus memberikan kebutuhan pangan yang cukup untuk bangsa.

"Di sisi lain makin hari makin terjadi keterbatasan lahan. Terkait hal itu, solusinya adalah teknologi, bagaimana kita menciptakan energi ini dibutuhkan perubahan teknologi yang besar," jelas dia.

Dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun ke depan, bebernya, energi menjadi hal terpenting. Namun peningkatan energi juga harus sejalan dengan kondisi lingkungan yang tetap terjaga.

"Ke depan, energi akan menjadi ujung dari kebutuhan manusia. Tanpa energi maka kita akan ketinggalan, akan sulit kalau energi kita kurang," katanya.

Karena itu, Kalla berharap perguruan tinggi bisa mencetak lulusan yang berkualitas dalam bentuk pengajaran dan penelitian. "Kalau tidak mengembangkan kualitas, maka kita akan makin tertinggal," tutur Kalla.

Namun demikian, Kalla meminta agar teknologi juga dibarengi dengan entrepreneurship. Karena seiring perkembangan teknologi dan entrepreneurship, maka akan memberikan nilai tambah bagi bangsa.

"Diharapkan UNS mampu terus meningkatkan penelitian dan menjalin kerja sama yang kuat dengan para pelaku entrepreneur," tutup Kalla.



(HUS)