Mendikbud, Muhadjir Effendy (kiri) menerima cinceramata dari Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar (kanan), Kemendikbud/Humas.
Mendikbud, Muhadjir Effendy (kiri) menerima cinceramata dari Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar (kanan), Kemendikbud/Humas.

Hanya Sedikit Guru Mahir Berbahasa Indonesia

Pendidikan bahasa indonesia
Citra Larasati • 11 Mei 2019 05:21
Jakarta: Sepanjang 2016-2019 Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan (BPBP) telah melakukan pengujian UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) terhadap 19.229 guru di Indonesia. Hasilnya, hanya enam guru yang meraih predikat istimewa, sebagian besar hanya berada di predikat madya.
 
"Sebagian besar memperoleh hasil predikat madya, 24% guru mendapatkan predikat Unggul dan Sangat Unggul. Terdapat enam orang guru meraih predikat Istimewa," sebut Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, di Jakarta, Jumat, 10 Mei 2019.
 
Untuk meningkatkan peran dan kedudukan bahasa Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah mengembangkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Pengembangan UKBI sebagai alat uji diiringi dengan fungsinya untuk mengukur kemahiran penutur bahasa Indonesia, baik penutur yang merupakan warga negara Indonesia maupun warga negara asing.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam penggunaan bahasa Indonesia lisan, UKBI mengukur keterampilan aktif reseptif peserta uji dalam kegiatan mendengarkan dan mengukur keterampilan aktif produktif peserta uji dalam kegiatan berbicara. Dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis, UKBI mengukur keterampilan aktif reseptif peserta uji dalam kegiatan membaca dan mengukur keterampilan aktif produktif peserta uji dalam kegiatan menulis.
 
Baca:Bahasa Daerah Mulai Ditinggalkan Penuturnya
 
Oleh karena itu, materi UKBI meliputi empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Selain itu, UKBI juga berisi materi tentang kaidah bahasa. Kelima materi tersebut diejawantahkan ke dalam lima seksi pengujian, yaitu Seksi I Mendengarkan, Seksi II Merespons Kaidah, Seksi III Membaca, Seksi IV Menulis, dan Seksi V Berbicara.
 
Peringkat seorang peserta uji diketahui melalui skor yang dicapainya setelah mengikuti UKBI. Setiap tingkat kemahiran diberi predikat yang berbeda. "Ada enam peringkat dalam UKBI, yaitu Istimewa, Sangat Unggul, Unggul, Madya, Semenjana, Marginal, dan Terbatas," terangnya.
 
Dalam kesempatan kali ini, Badan Bahasa mengundang 500 orang guru dan kepala sekolah. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan mengingat pentingnya penguasaan Bahasa Indonesia sebagai pengantar utama pendidikan. "Selama kegiatan berlangsung, peuji akan dibekali sosialisasi yang memaparkan pentingnya UKBI bagi pengembangan karier mereka sebagai tenaga pendidik, dan dilanjutkan dengan tes UKBI dengan menggunakan buku seri pelatihan yang terdiri atas soal menyimak, merespons kaidah, dan membaca," papar Dadang.
 
Amin Fatkitur, Kasi Pendidik Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengungkapkan, penguatan kompetensi bahasa Indonesia menjadi fokus perhatian Pemda DKI Jakarta. Langkah ini ditempuh dengan memasukkan materi kompetensi bahasa Indonesia ke dalam pelatihan kompetensi bagi guru.
 
"DKI Jakarta memiliki lima pusat pelatihan guru, dan satu pusat pelatihan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kemampuan berbahasa merupakan bagian dari seperangkat kompetensi yang harus dilatih kepada guru," ujar Amin.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, kemahiran bahasa Indonesia bagi guru dengan ragam bahasa daerah memiliki tantangan tersendiri. Perbedaan bentuk tata bahasa menyumbangkan kesulitan bagi guru untuk dapat memiliki konstruksi tata bahasa sesuai dengan standar bahasa Indonesia yang baku.
 
Muhadjir menjelaskan, perlu melatih para guru di wilayah yang memiliki konstruksi bahasa daerah yang berpengaruh kepada konstruksi bahasa Indonesia. Hal ini untuk mencegah ketidakteraturan konstruksi bahasa Indonesia.
 
“Kalau bahasa Indonesia tidak diluruskan betul implementasi sehari-hari, apalagi kondisinya sedang bertumbuh, maka efeknya akan kacau ke depan.”
 
Rencananya, Kemendikbud akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah lain untuk memperbaiki kemampuan bahasa Indonesia bagi guru dengan konstruksi bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa Indonesia. "Sedang kita pertimbangkan apa yang dilakukan Pemda DKI bisa dilakukan kepada wilayah lain terutama di wilayah-wilayah yang memiliki bahasa lokal yang secara konstruksi berbeda dengan bahasa Indonesia," ujarnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif