Ilustrasi vaksin. Medcom.id
Ilustrasi vaksin. Medcom.id

Epidemiolog UNAIR: Gerakan Antivaksin Sudah Ada Sejak Abad ke-18

Pendidikan Pendidikan Tinggi vaksin covid-19 Vaksinasi covid-19 UNAIR
Citra Larasati • 14 Januari 2021 22:51
Jakarta:  Program vaksinasi covid-19 yang baru saja dilaksanakan di Indonesia menyisakan permasalahan baru yang sering diperbincangkan masyarakat. Belakangan, muncul gerakan antivaksin di tengah-tengah masyarakat, berasal dari kelompok yang menyatakan menolak vaksin.
 
Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr. M.Kes., mengatakan jika gerakan antivaksin bukanlah sesuatu hal yang baru. Secara umum, gerakan antivaksin telah muncul saat pertama kali vaksin berhasil ditemukan pada abad ke-18.
 
“Jadi sebenarnya gerakan antivaksin sudah muncul saat Edward Jenner pertama kali menemukan vaksin di dunia pada abad ke-18, di mana saat itu pihak yang menentang adalah sebagian agamawan,” tutur Ato, sapaan akrabnya, Kamis, 14 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, Ato mengungkapkan, bahwa gerakan antivaksin akan selalu ada dalam kalangan masyarakat. Penyebabnya, sambung Ato, karena setiap manusia tentu memiliki pengetahuan, tingkat pemahaman, maupun sudut pandang yang berbeda-beda.
 
“Pertama, kita perlu berpijak pada satu persepsi terlebih dahulu. Apakah semua masyarakat sepakat bahwa pandemi covid-19 ini harus segera diakhiri atau tidak, itu dulu,” ungkap Wakil Dekan II Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair ini.
 
Baca juga:  Menolak Vaksin Membahayakan Orang Lain, Ini Penjelasan Pakar Unair
 
Ketika masyarakat telah sepakat untuk segera mengakhiri pandemi, tambah Ato, maka terdapat beberapa alternatif yang secara ilmiah dapat dilakukan. Dia mengatakan, apabila masyarakat melakukan 3M secara kompak dan masif, maka hal tersebut sudah cukup untuk menghentikan pandemi.
 
“Masalahnya masih banyak masyarakat yang tidak mau melakukan 3M. Tentu, hal tersebut menjadi ancaman bagi orang lain untuk tertular covid-19, sehingga perlu adanya upaya untuk mendukung 3M dengan memberikan kekebalan,” jelasnya.
 
Upaya memberikan kekebalan, lanjut Ato, juga perlu dilakukan secara kompak. Karena pada dasarnya terdapat perhitungan secara matematika terkait berapa orang yang harus dikebalkan agar suatu komunitas dapat terlindungi atau yang biasa dikenal dengan istilah herd immunity.
 
Dengan adanya gerakan antivaksin, menurutnya, dapat mengurangi jumlah orang yang berhasil dikebalkan sehingga berdampak pada kegagalan upaya pengebalan masyarakat.
 
“Sebenarnya boleh seseorang itu menolak melakukan vaksin, selama jumlahnya kurang dari jumlah maksimal orang yang tidak tervaksin,” tambahnya.
 
Pada akhir, Ato mengimbau masyarakat agar tidak mengajak orang lain untuk turut menolak melakukan vaksinasi. Dia mengungkapkan, bahwa kampanye antivaksin adalah kegiatan yang tidak seharusnya dilakukan.
 
“Secara individu, seseorang berhak menolak tetapi yang terpenting jangan sampai seseorang itu juga mengajak orang lain untuk menolak vaksin karena itu dapat membahayakan kepentingan umum,” pesannya. 
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif