Senior Analyst Climateworks Centre, Fikri Muhammad, menjelaskan Net Zero Campus mendorong perguruan tinggi menerapkan transisi energi dan mengurangi emisi di lingkungan kampus sendiri. Menurutnya, kampus merupakan miniatur kota karena memiliki banyak penghuni yang menggunakan energi dan menghasilkan sampah.
Senior Analyst Climateworks Centre, Fikri Muhammad. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Perguruan tinggi juga diminta memberikan contoh nyata dalam upaya penurunan emisi karbon, dan tidak sekadar menuntut, dan melempar kritik pada kebijakan pemerintah. Sebagai institusi yang kerap melahirkan kajian akademis dan rekomendasi kebijakan terkait perubahan iklim, kampus hendaknya mempraktikkan langsung konsep transisi energi hijau di lingkungannya sendiri.
“Nah jadi Net Zero Campus itu kita maunya tuh perguruan tinggi enggak (sekadar) nyuruh pemerintah, misalnya meningkatkan emisi harus melakukan transisi energi harus melakukan ini itu. Tapi juga perguruan tinggi juga melakukan proses transisi energi itu misalnya di dalam lingkungan kampus,” ujar Fikri kepada Medcom.id di sela-sela acara peluncuran laporan dan panduan Indonesia Net Zero Campus di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.
Berbagai inisiatif dapat dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing kampus. Fikri menuturkan perguruan tinggi telah menjalankan sejumlah upaya yang mendukung dekarbonisasi, tetapi tingkat pelaksanaannya berbeda-beda karena perbedaan kapasitas dan prioritas.
“Mungkin ada beberapa perguruan tinggi yang sudah besar-besar, mereka juga punya kapasitas keuangan besar, mereka sudah jauh lebih advance dibandingkan perguruan tinggi yang mungkin secara skalanya lebih kecil. Jadi memang sebenarnya sudah dilakukan, tapi mungkin alasannya itu berbeda-beda,” kata Fikri.
7 kampus yang sudah berkomitmen Net Zero Campus
Berdasarkan keterangan Fikri, terdapat tujuh perguruan tinggi yang telah memiliki komitmen menuju Net Zero Campus. Berikut daftar kampusnya:- Institut Pertanian Bogor (IPB)
- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
- Universitas Indonesia (UI)
- Universitas Gadjah Mada (UGM)
- Universitas Sumatera Utara (USU)
- Universitas Airlangga (Unair)
- Universitas Hasanuddin (Unhas)
Dari sejumlah kampus itu, Fikri memberikan penilaian khusus terhadap IPB, Unair, dan UI. IPB disebut paling maju karena telah menggunakan standar Greenhouse Gas Protocol dan memiliki dashboard untuk mendukung pelaksanaan inisiatifnya. Sedangkan, Unair dinilai cukup bagus dan UI disebut cukup baik.
Fikri menilai kampus besar memiliki kapasitas yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen dekarbonisasi. Meski aktivitas operasionalnya berpotensi menghasilkan emisi lebih besar, perguruan tinggi itu juga memiliki sumber daya dan kewenangan yang lebih luas untuk menjalankan berbagai program.
“Kita berharap perguruan tinggi yang udah oke nih, tadi misalnya kayak IPB, ada Unair itu bisa menjadi mentor untuk perguruan tinggi yang masih belum melakukan inisiatif ini secara terkoordinasi gitu ya. Tapi mereka tertarik untuk melakukan hal ini gitu jadi kayak ada perlu misalnya kayak tadi pendampingan konteksnya pendampingan dari misalnya yang lebih bagus ke yang baru mau mulai gitu pendampingan,” harap Fikri.
Data kesiapan kampus menuju Net Zero Campus
Kajian Climateworks Centre berjudul Dekarbonisasi di Sektor Pendidikan Tinggi Indonesia: Transformasi Perguruan Tinggi Menuju Emisi Nol Bersih memetakan praktik dekarbonisasi melalui analisis data sekunder dari 60 perguruan tinggi. Kajian tersebut juga mencakup konsultasi dengan 28 perguruan tinggi dan sejumlah lembaga pemerintah.Hasilnya menunjukkan, sekitar 68% perguruan tinggi dalam sampel telah memiliki strategi atau rencana keberlanjutan, termasuk program kampus hijau. Namun, hanya 15% yang tercatat memiliki komitmen emisi nol bersih.
Jumlah perguruan tinggi yang memiliki divisi atau departemen Environmental, Social, and Governance (ESG) juga baru mencapai 15%. Meski tingkat kesiapan berbeda, seluruh perguruan tinggi dalam sampel telah menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi.
Inisiatif itu mencakup sejumlah aspek operasional kampus, mulai dari energi, mobilitas, fasilitas, pengelolaan sampah, hingga rantai pasok. Misalnya dalam aspek energi, kampus dapat memasang panel surya di atap, membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro, serta menerapkan efisiensi energi melalui dashboard penggunaan energi.
Pada aspek mobilitas, upaya yang dilakukan antara lain menyediakan bus dan sepeda kampus, menggunakan kendaraan listrik untuk operasional, serta membangun fasilitas pengisian daya. Sementara itu, upaya di bidang fasilitas dapat berupa penerapan standar bangunan hemat energi dan sertifikasi green building.
Untuk pengelolaan sampah, kampus dapat menjalankan kampanye pengurangan sampah, penggunaan kembali, dan daur ulang, serta menyediakan fasilitas pengolahan sampah internal. Kajian itu juga mencatat inisiatif di luar operasional langsung kampus, seperti kebijakan pengadaan berkelanjutan, penanaman mangrove untuk penyeimbangan karbon, integrasi kurikulum berbasis lingkungan dan iklim, serta pengembangan hutan kampus.