Dialog terbuka antara Rektor IPB dan mahasiswa terkait MBG. Foto: IPB
Dialog terbuka antara Rektor IPB dan mahasiswa terkait MBG. Foto: IPB

Apakah IPB Ikut Kelola Dapur MBG? Rektor: Tidak Kelola SPPG, Tapi...

Citra Larasati • 09 Mei 2026 16:22
Ringkasnya gini..
  • Rektor tegaskan, sejak awal IPB University telah memutuskan untuk tidak terlibat langsung dalam operasional dapur MBG atau SPPG.
  • Salah satunya karena mempertimbangkan berbagai risiko teknis dan keamanan pangan.
  • Peran yang diambil IPB University lebih strategis, yakni sebagai penggagas Center of Excellence.
Jakarta: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB University), Dr Alim Setiawan Slamet menegaskan, sejak awal IPB University telah memutuskan untuk tidak terlibat langsung dalam operasional dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Salah satunya karena mempertimbangkan berbagai risiko teknis dan keamanan pangan.
 
Penegasan ini disampaikan Alim saat dialog bersama mahasiswa untuk meluruskan berbagai informasi terkait keterlibatan kampus dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Peran yang diambil IPB University lebih strategis, yakni sebagai penggagas Center of Excellence (CoE) untuk Pemenuhan Gizi Nasional (PGN) bersama Badan Gizi Nasional, Bappenas, Unicef, dan berbagai mitra lainnya,” tegas Alim, dalam siaran persnya, Sabtu, 9 Mei 2026.
 
Alim menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa yang tetap aktif menyampaikan kritik dan masukan terhadap berbagai isu nasional, termasuk terkait keterlibatan IPB University dalam program MBG. “Kami membuka ruang dialog karena banyak informasi yang beredar belum utuh sehingga memunculkan kesalahpahaman,” kata Alim

Melalui CoE tersebut, ia menandaskan, IPB University berperan dalam penyusunan kajian akademik, pelatihan, pengembangan standar mutu, hingga penguatan sistem pengawasan berbasis data. Selain itu, IPB University juga mendorong pembentukan CoE regional di berbagai wilayah Indonesia, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur.
 
Menguatkan pernyataan Rektor, Kepala Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal Prof Erika B Laconi menegaskan, IPB University tidak menjalankan operasional SPPG di dalam kampus.
 
Ia menyebut perguruan tinggi memiliki peran utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan sistem. “IPB University bukan tempat operasional SPPG. Tugas kami adalah memastikan ekosistem keilmuan, riset, dan pengendalian mutu berjalan dengan baik,” jelasnya.
 
Erika juga menambahkan bahwa mahasiswa memiliki ruang besar untuk berkontribusi melalui penelitian, pengawasan lapangan, inovasi pangan, hingga pengembangan startup berbasis pangan dan gizi. Dengan demikian, keterlibatan civitas akademika diharapkan mampu memperkuat kualitas implementasi program pemenuhan gizi nasional.
 
Berkaitan dengan SPPG, yang membangun dan mengelola SPPG bukan IPB University secara langsung, melainkan PT Bogor Life Science and Technology (BLST), holding company milik IPB, melalui yayasan yang dibentuk secara khusus. Yayasan tersebut berbadan hukum dan dikelola secara profesional, terpisah dari anggaran pendidikan dan operasional akademik IPB. 
 
"Jadi, struktur tata kelola dan mandat akademik kampus tetap terjaga," imbuh Alim.
 
Direktur PT BLST, Dr Luhur Budijarso, yang turut hadir dalam forum tersebut menjelaskan, pengembangan SPPG oleh BLST dilakukan melalui kajian risiko yang matang selama lebih dari satu tahun.  Ia menegaskan, fokus utama BLST bukan sekadar keuntungan operasional, melainkan membangun ekosistem agribisnis dan rantai pasok pangan yang berkelanjutan.
 
“Bisnis model SPPG ini bukan untuk mengambil keuntungan semata dari operasional dapur, tetapi bagaimana mengembangkan value chain hingga ke petani, peternak, dan pengolahan pangan,” jelasnya.
 
Ia menambahkan, BLST telah menyiapkan kerja sama dengan petani, peternak, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal di lokasi SPPG yang ditargetkan, yakni Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Sukajaya guna memastikan ketersediaan dan keamanan pangan bagi penerima manfaat program. Selain itu, ia juga menandaskan bahwa aspek kualitas pangan menjadi prioritas utama dalam pengelolaan SPPG.
 
"Perlu kami tegaskan bahwa SPPG ini lokasinya bukan di dalam kampus IPB, tidak memakai fasilitas dan sumberdaya kampus, dan bukan untuk pengadaan MBG bagi mahasiswa, " tambahnya.
 
Dalam kesempatan itu, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB University, Muhammad Abdan Rofi, menyampaikan, dialog terbuka ini dibuat untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai posisi IPB University dalam program tersebut. Ia menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam mengawal kebijakan yang telah disepakati bersama.
 
“Kita merupakan bagian dari sivitas akademika, sehingga diharapkan dapat menjadi pengawal, pengawas, sekaligus turut berkontribusi dalam mendukung Center of Excellence ini. Ruang dialog juga telah dibuka agar mahasiswa dapat ikut melihat, mengamati, dan mengawal implementasi kebijakan yang telah menjadi komitmen bersama,” ujarnya. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA