Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Heri turut melibatkan Prof. Dra. Evi Fitriani, M.A., M.I.A., Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UI), bersama sejumlah pemimpin dan akademisi dari berbagai kampus di tanah air, seperti Prof. Fredy Leiwakabessy, Rektor Universitas Pattimura; Prof. Ibrahim, Rektor Universitas Bangka Belitung; Dr. Ilfi Nur Diana.
Selain itu juga Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Prof. Gabriel Lele, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada; serta Sukron Makmun, akademisi hubungan internasional dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Banten. Kunjungan ini disokong oleh Kedutaan Besar RRT di Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contacts) antara kedua negara.
Kunjungan akademik Rektor UI, Heri Hermansyah ke Yunnan dan Guangxi, Republik Rakyat Tiongkok
Salah satu agenda utama delegasi berlangsung di Yunnan University (YNU), kampus negeri di Kota Kunming yang merupakan kampus prestisius anggota “Project 211” gagasan pemerintah RRT. Yunnan University sendiri telah menjalin nota kesepahaman kerja sama dengan UI sejak 2019.
Selama beberapa tahun terakhir, kedua institusi telah mengembangkan berbagai bentuk kolaborasi, termasuk pertukaran mahasiswa dan publikasi bersama di bidang kesehatan masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, kedua universitas sepakat meningkatkan program mobilitas mahasiswa, kunjungan staf akademik, penjajakan program double degree, serta peluang studi lanjut bagi dosen UI pada bidang-bidang unggulan seperti etnologi, ekologi, dan pembangunan ekonomi regional.
Delegasi juga berdiskusi dengan pimpinan Guangxi Minzu University (GXMZU) di Kota Nanning, salah satu universitas yang aktif mengembangkan kerja sama internasional dengan negara-negara ASEAN. GXMZU sendiri memiliki sekitar 2.700 mahasiswa internasional.
Uniknya, Bahasa Indonesia menjadi satu dari tujuh bahasa Asia yang diajarkan di GXMZU. Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk meningkatkan pertukaran mahasiswa dan menjajaki pengembangan program pendidikan bersama pada jenjang sarjana maupun pascasarjana.
Selain dengan perguruan tinggi, delegasi Indonesia juga berdiskusi dengan Guangxi Academy of Social Sciences guna memperluas peluang kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan di bidang ilmu sosial, kebijakan publik, dan pembangunan kawasan. Pertemuan ini membuka ruang kerja sama yang lebih luas antara akademisi Indonesia dan RRT dalam menghasilkan solusi berbasis riset terhadap berbagai tantangan regional maupun global.
Menurut Prof. Heri, penguatan kemitraan akademik internasional merupakan langkah strategis untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kapasitas riset Indonesia.
“UI memandang kerja sama akademik global sebagai investasi jangka panjang dalam pengembangan talenta akademik. Kolaborasi yang semakin erat dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset di RRT akan memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap pengalaman internasional, memperkuat kapasitas riset dan inovasi, serta mempercepat lahirnya talenta unggul yang mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat global. Pada saat yang sama, kemitraan ini menjadi jembatan penting untuk mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok melalui pendidikan dan pertukaran pengetahuan,” tegas Heri.
Rangkaian diplomasi akademik yang dipimpin oleh Prof. Heri menegaskan komitmen UI untuk terus memperluas kolaborasi global guna memperkuat reputasi internasional dan kualitas akademiknya.
Pada saat yang sama, penguatan jejaring dengan perguruan tinggi dan lembaga riset di RRT diharapkan dapat mendukung akselerasi pendidikan tinggi Indonesia melalui peningkatan mobilitas akademik, pengembangan talenta unggul, kolaborasi riset, serta penguatan hubungan pendidikan antara Indonesia dan Tiongkok.