Menristekdikti, Mohamad Nasir (kanan) dan Dirjen Risbang Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati (kiri), Foto: Medcom.id/Citra Larasati
Menristekdikti, Mohamad Nasir (kanan) dan Dirjen Risbang Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati (kiri), Foto: Medcom.id/Citra Larasati

Hasil Penelitian Anak Negeri Kurang Dikenal Dunia

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 12 September 2019 14:45
Jakarta: Dunia riset dan penelitian di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan, di antaranya kesenjangan antara jumlah mahasiswa dan dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan. Kondisi ini berdampak pada kurang dikenalnya hasil penelitian anak negeri di tingkat global.
 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, salah satu penyebab masih kurang dikenalnya penelitian dari Indonesia adalah karena publikasi global yang dihasilkan para peneliti juga masih sedikit.
 
“Padahal publikasi ilmiah saat ini memegang peranan sangat penting sebagai bukti pertanggung jawaban ilmiah hasil penelitian, sehingga dapat dikenal luas secara global," kata Nasir, dalam sambutannya di Acara Pemberian Penghargaan Science and Technology Index (SINTA Award 2019) di Jakarta Convention Center, Kamis, 12 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nasir menambahkan, World Class University (WCU) menempatkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator dalam melakukan pemeringkatan perguruan tinggi di seluruh dunia. Sampai tanggal 9 September 2019, publikasi ilmiah Indonesia yang dihasilkan di 2018 dan sudah terbit di jurnal terindeks Scopus sebanyak 34.007.
 
"Angka inimenduduki posisi pertama diikuti oleh Malaysia sebanyak 33.286," kata Nasir.
 
Namun publikasi Indonesia yang dihasilkan di 2019 Indonesia dan sudah terbit di jurnal terindeks Scopus sementara masih di posisi kedua di angka 19.916, dikalahkan Malaysia di angka 20.993. "Masih ada waktu untuk segera terus berkompetisi di Asean dan secara Global," terang Nasir.
 
Sementara itu, jurnal di Indonesia terus mengalami peningkatan, baik yang terakreditasi nasional maupun bereputasi Internasional. "Sementara jurnal kita terus mengalami peningkatan baik yang terakreditasi nasional maupun bereputasi Internasional," imbuh mantan rektor terpilih Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.
 
Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangann, Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati menjelaskan bahwa dalam kurun satu tahun SINTA telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dari sisi kuantitas dan kualitas.
 
Sampai 9 September 2019 telah terdaftar lebih dari 177.000 dosen dan peneliti, 4.776 lembaga, 2.720 jurnal, 26.588 buku dan 2.543 kekayaan intelektual yang sudah masuk terindeks Sinta berdasarkan hasil verifikasi, akreditasi dan evaluasi.
 
“Integrasi data sebelumnya dengan Google Scholar dan Scopus, ditingkatkan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk buku, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk paten dan hak cipta, serta Web of Science," sebut Dimyati.
 
Terdapat tiga rangkaian kegiatan lain dalam perhelatan Sinta Award 2019. Pertama, Launching Program Unggulan Id Menulis, sebagai wahana tutorial dan pendampingan dalam melakukan publikasi ilmiah. Kedua, RAMA (Repositori Tugas Akhir Mahasiswa), merupakan layanan integrasi repositori tugas akhir mahasiswa yang dikelola oleh setiap perguruan tinggi.
 
Ketiga, Anjani (Anjungan Integritas Akademik), merupakan layanan sistem pembinaan, pelaporan pelanggaran integritas akademik dan pendeteksi kemiripan karya ilmiah.
 
"Ketiga sistem baru tersebut melengkapi sistem yang sudah dikembangkan oleh Kemenristekdikti dalam peningkatkan kualitas publikasi yang beretika dan berintegritas," kata Dimyati.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif