Suasana saat tes offline OSC Medcom.id di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur. Foto: Medcom.id/Tim OSC
Suasana saat tes offline OSC Medcom.id di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur. Foto: Medcom.id/Tim OSC

Tanggapan Peraih Nilai Terbaik OSC Soal Penggantian UN

Pendidikan beasiswa osc
Intan Yunelia • 20 Desember 2019 07:30
Jakarta: Tanggapan berbeda diutarakan dua peserta Online Scholarship Competition (OSC) Medcom.id dengan predikat peraih nilai tertinggi menyikapi penggantian sistem Ujian Nasional (UN). Keduanya adalah Aditya Ihza Pangestu peraih nilai tertinggi seleksi OSC di Universitas Mercu Buana dan Sherly Angela di Universitas Atmajaya.
 
Bagi Aditya, ia kurang sependapat penggantian sistem UN. Menurut, pria kelahiran 25 Juli 2002 itu, dengan UN bekal dirinya masuk universitas. Seperti saat dia ikut seleksi OSC Medcom.id, banyak belajar dari soal-soal UN.
 
"Jadi kalau enggak bisa melewati di UN pasti bakal susah di universitas," kata Aditya kepada Medcom.id, usai Awarding Night OSC 2019 di Voledrome Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis, 19 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pria yang mengambil jurusan desain komunikasi visual UMB itu, mengusulkan sistem penggantian UN cukup untuk SMK. Pasalnya, mereka lebih dipersiapkan keterampilannya ketimbang materi-materi.
 
"Kalau dihapus boleh saja tapi bagian tertentu kaya SMK mungkin. SMK itu sudah diukir dari awal untuk mengerjar cita-cita," terang Adit.
 
Hal berbeda diungkapkan Sherly. Ia setuju UN digantikan dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Alasannya, kata dara kelahiran Jakarta itu, tak semua siswa memiliki kemampuan di bidnag akademik yang diukur dan dinilai dengan UN.
 
Ditambah kata perempuan yang mengambil jurusan manejemen di Universitas Atmajaya itu, beberapa teman-temannya merasa terbebani dengan keberadaan UN. Lagipula, UN sudah tidak dijadikan parameter kelulusan siswa untuk ke jenjang pendidikan berikutnya.
 
"Jadi sebenernya enggak apa-apa kalau dihapus dan karena ada beberapa yang terbebani siswanya karena UN," ucapnya.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim beberapa waktu lalu resmi menetapkan sistem asesmen baru untuk menggantikan Ujian Nasional (UN). Sistem asesmen ini mulai diterapkan di 2021, sekaligus menegaskan bahwa UN 2020 akan menjadi pelaksanaan UN yang terakhir.
 
"Penyelenggaraan UN tahun 2021 akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Terdiri atas kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter," kata Nadiem pada peluncuran Empat Pokok Kebijakan Pendidikan “Merdeka Belajar”, di Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.

 

(WHS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif