Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Buku Pelajaran Singgung Agama Lain, PGI: Tak Perlu Ditanggapi Berlebihan

Pendidikan RUU KUHP Pendidikan Agama Buku Pelajaran
Citra Larasati • 28 Februari 2021 16:11
Jakarta:  Pesekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menilai tak perlu berlebihan dalam menyikapi tentang isi buku pelajaran Agama Islam dan Budi Pekerti bagi siswa kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2014.  Buku ini tengah menjadi perbincangan karena isinya dinilai menyinggung agama lain.
 
Meski PGI menyayangkan terbitnya buku pelajaran ini, namun PGI meminta agar hal ini tak perlu ditanggapi secara berlebihan.
 
“Ini adalah mata pelajaran agama Islam. Dan tentu saja isinya adalah pemahaman dan ajaran Islam, termasuk mengenai agama Kristen dan Injil. Lalu bagaimana kita menanggapinya? Ya, tidak perlu ditanggapi. Tugas kita adalah memberikan informasi autentik tentang ajaran Kristen kepada murid-murid Kristen, bukan menggugat isi pengajaran agama yang lain,” kata Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGI, dikutip dari laman PGI, Minggu, 28 Februari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gomar menambahkan, pihaknya sangat berharap pelajaran agama di sekolah lebih mengutamakan pelajaran budi pekerti dan nilai-nilai universal dari agama.  Menurutnya, pelajaran agama yang dogmatis di ruang publik hanya akan menciptakan segregasi, bahkan bisa menciptakan permusuhan.
 
"Itu sebabnya, pendidikan agama dalam bentuk ajaran/dogma sebaiknya dilakukan di ruang privat (keluarga dan rumah ibadah) dan tidak di sekolah. Ini menjadi PR-nya Menteri Agama dan Menteri Pendidikan (Mendikbud) untuk membenahinya," tegas Gomar.
 
Baca juga:  Sekolah-Pemda Harus Bersinergi untuk Kemajuan Dunia Pendidikan
 
Lebih dalam ia memberi perhatian jika pendidikan seperti selama ini dijalankan, di mana negara menyusun kurikulum pendidikan agama dengan memasukkan dogma/ajaran agama maka negara telah ikut berteologi, sesuatu yang sangat absurd. “Mestinya cukuplah negara mendasarkan diri pada konstitusi dengan tafsir hukumnya dan tidak memasuki ranah teologi yang memiliki ragam mashab atau denominasi,” terangnya.
 
Untuk hal ini, secara khusus PGI telah menyurati Menteri Agama agar isi buku yang membuat gaduh tersebut ditindaklanjuti.  Hal ini menurut Gomar penting, terlebih lagi di tengah upaya pemerintah dan masyarakat membangun kerukunan, memang hal-hal seperti pelajaran agama ini menjadi ganjalan serius.
 
Menurutnya, antara agama Kristen dan Islam memang terdapat titik temu dan titik tengkar yang cukup banyak, dan kalau tidak hati-hati mengelolanya bisa membuyarkan usaha menuju kerukunan tersebut.
 
"Terkait dengan ini, Sekum PGI telah menyampaikan ke Menteri Agama beserta dengan copy pdf. buku-buku tersebut. Oleh Menag sudah diinstruksikan kepada stafnya untuk segera berkordinasi dengan pihak Kemendikbud untuk mengkaji materi dari buku-buku ini bila ternyata masih digunakan,” tandas Gomar.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif